Sunday, July 02, 2006
Aku Seorang Terhukum

 

Aku Seorang Terhukum:

Memoar Pengakuan Gadis Jakarta*

Oleh: Firdaus Putra Aditama**

 

”Tak ada pesta yang tak usai

Karena seluruh pesta di dunia adalah fana

Ada pertemuan meniscayakan perpisahan

Apakah patut disesali?”

 

 

 

 

Sehari menjelang penghabisan bulan Februari, bulan yang konon sangat dinantikan oleh para pasangan-pasangan pecinta, ya Valentine Day jatuh pada bulan ini. Bukan bulan Maret atau September. Kenapa harus Februari?

 

Akhirnya merupakan ’perjuangan’ yang panjang ketika aku menghendaki untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh lembaga non pemerintah yang berorientasi pada wacana agama dan sosial. Nir laba karakter khas dari lembaga ini.

***

Aku tak pernah menduga ’perjuangan’ panjang untuk berproses di acara itu melahirkan dialektika emosi. Ya! Rasa itu yang telah lama tenggelam dalam kesibukanku kini kembali lahir. Lahir dalam sosok yang telah lama hilang dalam anganku, dalam imajinasiku, dalam keinginanku untuk menemuinya. Puput, sosok lincah itu dipanggil oleh banyak orang. Sosok itu yang telah lama ’terkubur’ dalam pencarian cintaku, kini hadir membawa kedamaian, kebahagiaan  baru. Alangkah manisnya ketika sejumlah SMS memasuki Handphone-ku;

 

Halo say? Gi dmn kamu? Hati2 y? Jaga diri baik2 jgn lupa besok y? Put tgg.

Message from:

081328721371

atau;

 

Adit sayang, klo bisa kmu k sininya besok aj deh…so’alnya hari ini aku ad jam tahfid qur’an, bisa kan?, demi aku, ya.. Xiu.Bls d hp ku

Message from:

081328721371

 

Dua SMS yang membuat aku bertanya, apakah benar apa yang dikatakannya? Apa ungkapan ‘say-sayang’ yang ia pakai adalah tulus. Aku sebagai manusia biasa pantas jika tak  mengetahui kedalaman hati manusia sesunguhnya. Jangan-jangan seperti tragediku. Saat aku ‘jalan’ dengan seorang gadis Pekalongan, Tita. Ya! Ia yang membuat aku trauma. Trauma yang menjerembabkan aku pada skeptisisme dalam menanggapi ucapan-perkataan orang lain. apalagi perempuan. Aku tidak ingin ini terjadi lagi. Sungguh menyakitkan!

***

Bintaro Plaza, mengukir kenangan yang aku rasa semua orang tidak ingin melupakannya. Melupakan kenangan yang untuk kesekiankalinya, dengan kehendak Tuhan, terajut, hingga pertautan perasaan pun terjadi. Ini yang aku rasakan kala memegang tanganya, memeluknya dan ketika berpose bersama di sebuah bilik fast photograph. Tetap seperti dahulu ketika aku mengenalnya, senyumnya sangat ramah dan membuat laki-laki selalu ingin mengenal, mendalaminya. Ah... !

 

Apakah perasaan ini salah, jika aku kembali menyayanginya. Seperti dahulu ketika hanya dalam dua kali pertemuan aku telah mencintanya.

Cinta pandangan pertama, ternyata benar-benar ada. Memang tidak rasional, namun apakah segala sesuatu perlu dirasionalkan? Apakah rasa menghendaki perasionalan. Rasa, aku kira tidak menghendakinya, ia mengehendaki untuk dirasakan; bukan dirasionalkan! Kala rasa telah dirasionalkan, maka rasa bukan lagi rasa tetapi pengetahuan tentang rasa. Terserah saja, mau rasional atau tidak, yang jelas aku sedang merasakannya.

 

Apakah aku boleh merasakan rasa yang ada kala ini? Apakah ini benar? Bagaimana jika salah? Apakah ada rasa yang salah? Atau hanya setting waktu, tempat, keadaannya saja yang tak tepat?

***

 

”Ada pertemuan meniscayakan perpisahan

Apakah patut disesali?”

 

Kenapa harus disesali, bukankah kehendak Tuhan membuat skenario ini menjadi drama pencarian-peneguhan cinta. Aku tak perlu menyesalinya, andaikan pun itu melahirkan ’bayi-bayi’ kepahitan, kegetiran dalam langkahku.

 

Sesuai kodrat alam atau keniscayaan sejarah dalam bahasa akademis, setiap manusia tidak mengehendaki keterputusan pleasure, peace, happines dan kosa kata lain yang sebanding dengannya. Di saat hal itu lahir maka pertanyaan yang muncul dalam benakku dan benaknya; ”Kapan kita bertemu kembali?”. Untuk meneguk kenikmatan, kesenangan, kedamaian, laksana Adam dan Hawa saat iblis datang menggodanya, memperdayanya untuk memakan buah terlarang; al-khuldi. Sulit memang untuk menjawab pertanyaan itu, biarkan mengalir bagai air yang mengalir. Biarkan skenario Tuhan Yang Maha Kasih merasuki relung-relung kehidupan kami. Apa yang baik bagi kami Tuhan pasti lebih tahu.

 

Aku ingin istirahat, sehari bersamanya dalam keadaanku yang sungguh seperti orang pesakitan. Aku harus sehat, aku masih ingin mereguk kenikmatan buah terlarang itu.

***

 

Ragukanlah sesuatu hal

Jika sesuatu sudah tak dapat (tak boleh) diragukan

Maka sesuatu itu pantas sekali untuk diragukan

 

 

 

March, 4-2005 Ciputat

 

Saat ini aku berada di titik kebimbangan setelah aku mendengar sebagian besar pengakuanmu malam itu. Rasanya aku berada dalam kungkungan ‘dosa’ moral, hukuman atas penyia-nyiaan rasa sayang yang kamu kukuhkan padaku. Seperti kamu yang tengah berada dalam dua titik pilihan yang semuanya menyakitkan; memilih dia, namun tidak (belum) mampu kamu berikan rasa sayangmu. Atau memilih aku untuk memenangkan rasa sayangmu, namun belum tentu kita bersatu dan kamu sendiri tidak berani mengambil resiko memutusnya. Dua pilihan yang semuanya menyakitkan. Simalakama, buah yang sungguh tidak enak untuk dimakan siapapun.

***

Dan saat ini, 5 Maret, kegetiran semakin terasa sesaat ia telah meninggalkanku tuk pergi bersama sang pacar. Ya! Ia sudah terikat dengan orang lain, dengan status pacar. Pacar, sebuah ikatan antara ego satu dengan yang lain, berdialektika, alih-alih untuk mendapatkan kebahagiaan, malah kadang banyak mendatangkan masalah. Pacar, ia telah mempunyai pacar, namun kenapa masih meenyayangi aku. Apakah sang pacar tak mampu memberikan rasa itu. Rasa yang diidam-idamkan oleh para Hawa. Rasa sayang, yang konon menurut pengakuan para perempuan, rasa itu lebih dalam dan lebih luas dari pada cinta. Cinta dapat dilatari oleh rasa sayang atau impulsif seksual. Cinta dapat konstruktif; dan destruktif. Sayang ?

 

Ah, tai kucing, biarkan saja perdebatan ‘sayang’, ‘cinta’ menjadi ladang bagi orang-orang akademis. Jika tidak, mungkin mereka akan menganggur. Kasihan mereka sudah kuliah dengan biaya dan waktu yang tak sedikit. Biarkan perdebatan itu menjadi miliknya, ditafsirkannya. Padahal belum tentu mereka tahu seperti apa ‘sayang’, ‘cinta’ dan rasa yang sekarang aku – dia sedang rasakan!

***

Akhirnya, pelupaan atas relasi sosial berupa pacar terjadi saat kami asyik dan mahsyuk dalam cengekerama phisickly. Tak dapat dipungkiri, perpisahan empat tahun mengendap dalam alam bawah sadarnya. Dan hari ini kran ‘kebuntuan jalan’ itu dibuka. Akumulasi atas represi dorongan seksual termanifetasi dalam kenikmatan-kenikmatan yang selalu menginginkan kata; lebih, dan lebih. Beruntung Tuhan masih menjaga kami, meskipun hasrat liar itu tetap keluar dari bibir, lidah, tangan, kulit, dada, kemaluan, wajah, telinga, hidung kami. Aku kira bukan saatnya mengenang Tuhan pada sesi ini. Biarkan Tuhan ‘beristirahat’ sebentar saat kami saling mereguk kenikmatan bagai pendakian bukit yang belum selesai.

 

Pendakian yang menyisakan kegetiran jiwa, hati. Kegetiran yang pada akhirnya membawa aku pada posisi terhukum sebagai orang yang telah menyia-nyiakan rasa sayangnya selama empat tahun terakhir. Ia menjadi sosok play girl hanya dengan sebuah pijakan keinginannya; untuk melupakan aku. Bagaimanapun ia telah mencoba dan mencoba, empat minggu, dua bulan, tiga hari dan banyak bilangan waktu lainnya yang ia gunakan untuk mencoba melupakan aku dengan beberapa laki-laki yang menginginkannya.  Namun….  Kenapa harus aku? Kenapa harus dia?

***

Kami, terutama dia, tidak tahu apa yang tengah Tuhan rencanakan pada relasi sosial model ‘baru’ ini. Sebuah relasi yang mensahkan adanya perselingkuhan. Perselingkuhan pada tataran fisik, bukan hati. Ia telah ‘melacurkan’ badannya kepada sang pacar. Namun ia tidak ‘melacurkan’ hatinya. Hatinya (rasa sayangnya) hanya untukku. Aku sungguh pantas mendapat punishment dari laki-laki mana saja yang telah ia kecewakan. Dan ini adil untukku. Kenapa aku tidak mengindahkan rasa itu. Rasa yang mampu bertahan selama empat tahun dalam kekosongan harapan. Harapan pertemuan yang entah seberapa persen probabilitasnya.

 

Perempuan engkau memang hebat, engkau sungguh kuat mengemban ‘amanat’ Illahi untuk menyayangi aku. ‘Amanat’ itu pastilah berat bagimu, dengan penderitaan psikologismu, sungguh engkau perempuan yang luar biasa. Aku tundukkan hormatku padamu.

 

Cinta segi empat, sebuah percintaan yang sungguh langka dan fenomenal. Apakah ini benar, mana kala dalam relasi itu perselingkuhan yang dalam masyarakat ditabukan, diharamkan, dicela, dicerca, dan seterusnya, namun dalam relasi ini: relasi kami, kami melegalkannya. Biarkan kita memiliki tambatan cinta masing-masing, namun rasa sayang itu akan tetap mengalir secara eksklusif diantara kami berdua. Bagaimana dengan nasib pasangan cinta kami? Apakah kami bersalah? Apakah rasa diantara kami patut dijustifikasi berdasar pola relasi yang telah ada, bukannya menggunakan justifikasi ‘rasa’ an sich. Sungguh relatif dunia ini, sungguh absurd dunia ini. Apakah aku, dia benar?. Atau aku, dia salah? Cukup memberi keteduhan dalam kegelisahan batinku, saat ia berkata “shut up, ini masalah hati!”. Namun apakah hal ini bukan merupakan sebuah bentuk egoisme masing-masing, yang menginginkan pemenangan cinta vis-à-vis sayang.

***

Di ujung handle telepon sana, lontaran pengakuan-pengakuan yang terepresi oleh keadaan muncul bagaikan kilatan-kilatan petir  yang susul-menyusul di cakrawala hatiku. Sungguh keperihan tersendiri mendengar pengakuan perempuan yang lebih tua dua hari dariku.

 

Kenyataan tempo lalu, ketika aku ‘jalan’ dengan Tita  tidak langsung membuat aku mempercayai perkataanya. Jangan-jangan ini hanya bohong, jangan-jangan hanya jebakan. Begitu besarnya keraguanku pada perkataan itu. Bernarkah di dunia, di belantara Jakarta yang sedemikian ‘gila’ masih terdapat perempuan yang menyimpan rasa sayangnya selama empat tahun. Just for me!

 

Semuanya patut diragukan, bahkan harus diragukan, bukan hanya masalah perkataan  ini, bahkan agama pun patut untuk diragukan sebelum ia melenggang keperaduan kemapanan berfikir, beribadah. Mula-mula aku ragukan ucapan-ucapan itu, bull shit bagiku. Semalaman kucoba membalik logika yang ada; jika ia membohongiku, apa keuntungan yang ia peroleh. Bukankah aku laki-laki dengan ketakpunyaan secara ekonomis, laki-laki dengan ketakpunyaan secara phisickly, dan ia sudah memiliki pacar. Jika ia membohongiku, apa keuntungan yang ia peroleh. Jawabnya: no thing!

 

Dia tidak berusaha membohongiku atau menjebakku, dia tengah berusaha ‘menghukumku’ dengan membuka selubung rahasia yang selama ini tak aku ketahui. Ia tengah membuka diri dari hijab yang selama ini ia kenakan. Ia tengah mencoba menarikku dalam dunia penantiannya, penantian yang tak pasti kapan waktunya. Ia tengah mencoba mentransformasikan pengetahuan energi positif itu padaku.

***

Sekarang aku tidak meragukan ‘kebenaran’ ucapanmu. Namun saat ini aku berada di titik kebimbangan setelah aku mendengar sebagian besar pengakuanmu malam itu.

 

***

Ma’af dit dah kucoba buat nahan air mata ini, tapi ga bisa, harusnya aku tadi ga liat kamu pergi.

Message from:

081328721371

 

Put ngerasa tersiksa dit ma keada’an ini, put SEBEL!! Put ga pernah sesedih ini, sama spt yg put rasain waktu put mo ninggalin kamu dulu.

Message from:

081328721371

 

Put juga ga tau, put bingung bgt, kepala put sakit, yang put mo skrg BERTERIAK sekerasnya, biar semua beban ilang. Jujur aj put ga kuat kya gini.

Message from:

081328721371

 

SMS yang susul-menyusul masuk saat bus meluncur dengan cepat menjauhi Jakarta yang penuh-sesak akan masalah. Benar-benar Jakarta penuh masalah. Dan sekarang, apa yang terjadi dengan diriku, masalah yang aku bawa pulang. Ya… Masalah!

 

Aku tak tahu harus bagaimana, ia sedang dalam keadaan kacau, ia sedang hancur berkeping-keping. Sama seperti waktu ia meninggalkan aku. Dahulu ia meninggalkan aku, sekarang aku ‘membalasnya’. Salahkah aku meninggalkan kelaraan dalam hatinya yang terpenuhi rasa sayang yang dalam itu.

***

Kediri, akhir Juli

 

Dari kota yang dibelah menjadi dua bagian oleh sungai Brantas, kisah ini bermula.

 

Tuh Put  ntar die yang nggojlok kamu, kalo kamu di sini…” Sembari mengarahkan matanya kearahku duduk.

Kakak OSIS kan…?”  Tanya sosok yang dipanggil Put, oleh perempuan yang baru beberapa hari yang lalu ‘melepas’ seragam Tsanawiyyah-nya.

Tak sempat kujawab, karena mereka buru-buru meninggalkanku masuk ke asrama putri yang saat itu sedang sepi. Keceriaan menyinari wajah-wajah mereka, lulus… keputusan yang dijatuhkan oleh pemerintah melalui lembaran kertas yang tak bernyawa itu. Namun kertas itu mampu merubah keadaan hati manusia yang bernyawa kala membacanya. Ceria, jika lulus. Dan sesal, jika tak lulus

***

Aku masih duduk sendiri di teras perpustakaan ditemani nyiur bambu kuning yang senantiasa menarik untuk dilihat. Angin semilir menerpa mataku, kosong… tak ada tugas hari ini. Karena sedang libur akhir tahun. Hanya aku manusia bodoh yang menunggu sesuatu yang tak pasti; entah apa itu.

 

Seharian duduk-duduk sendirian membuat aku jenuh dan muak pada sepi yang tak mau diajak bicara denganku. Masih terlintas wajah manis itu, wajah sosok yang dipanggil ‘Put’. Put, siapa Put, Puput, Putty, Putri atau…. Ah peduli amat siapa namanya. Kenapa tidak bertanya langsung pada penyandang nama itu.

***

“Siapa…?” Teriak perempuan dari dalam asrama.

“Adit…” Jawabku, dengan teriakan pula.

Nyari siapa…?”

“Eh… eh… Put…”

“Oh… Puput, bentar ya…”

“Puput dipanggil ma Adit di bawah…” Teriak perempuan itu.

 

Tak lama kemudian, sosok yang ternyata bernama Puput keluar. Kerudung santai yang ia kenakan, bawahan motif hitam berbunga, dan atasan  warna cerah. Secerah wajahnya. Aku sudah beberapa menit menunggu di ruang tamu asrama. Ia pun masuk… duduk.

 

Kenalin, Adit…” Dengan PD yang tinggi aku ulurkan tangan.

“Puput… eh… kamu adiknya Azza ya?” Sembari menyapa uluran tanganku.

Lho kok tao… mang Azza terkenal ya di Astri?” Astri, sebutan untuk Asrama Putri.

“Diakan pinter, ganteng lagi…mang situ kenal Put dari siapa?”

“Kan tadi Puput nanya ma aku… penasaran terus pingin kenal gitu”.

 

Obrolan itu lama, hingga aku merasa perempuan ini cocok sekali untuk dijadikan teman ngobrol santai. Aku merasa kutemukan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Entah apa itu, terlalu prematur kalau aku nyatakan ini ‘cinta’. Ah… dasar!

***

Pertemuan ini merupakan pertemuan untuk kali keduanya dan juga untuk terakhirkalinya aku bertemu Puput di Kediri. Siang, sekitar jam 14.00 WIB KA Brantas jurusan Tanah Abang telah menunggunya. Pertemuan yang sungguh singkat, namun rasa aneh itu telah ada didiriku. Dua malam sebelum pertemuan ini aku merasakan kerinduan pada dirinya. Rindu untuk ngobrol-berbincang-bincang, tentang dia atau aku. Apakah dia merasakan?

 

Dan hari ini, kenang-kenangan yang semalam telah aku siapkan dengan rapi sudah aku tenteng di tangan. Hari ini jantungku berdetak keras, antara ‘ya’ untuk mengakui rasa ini cinta atau ‘bukan’. Bibirku masih gemetar, ingin rasanya aku berkata “aku jatuh hati padamu, wahai sang anggur nan rupawan”. Namun aku takut. Takut untuk menerima jawabannya.

 

Dengan obrolan singkat dan saling bertukar alamat, pertemuan terakhir itu selesai. Jabat tangan, ya… hanya jabat tangan darinya yang aku bawa kembali ke asramaku bersama kejengkelanku pada keadaan. Keadaan yang tidak mendukungku untuk menjalin tali yang baru saja mulai disimpul dalam hatiku.

***

Beberapa minggu, perasaanku semakin menjadi-jadi, setiap kali menghubunginya aku habiskan Rp. 20.000. Maklum tarif interlokal, barang tentu nominal itu besar untuk ukuran anak asrama.

 

Dan pada suatu malam, kucurahkan semua beban yang ada dihatiku. Lepas semua beban, terserah ia memberi respon apa. Menolak atau menerima. Terserah! Yang penting aku tak tersiksa oleh perasaanku. Dan…

***

Aku tak pernah menduga ’perjuangan’ panjang untuk berproses di acara itu melahirkan dialektika emosi. Ya! Rasa itu yang telah lama tenggelam dalam kesibukanku kembali lahir. Lahir dalam sosok yang telah lama hilang dalam anganku, dalam imajinasiku, dalam keinginanku untuk menemuinya. Puput, sosok lincah itu dipanggil oleh banyak orang.[el-ferda]

 



* Cerpen lokal dari belantara Sosiologi, untuk dibedah pada diskusi FORSA, Kamis 10 Maret 2005 di depan R 3.

** Mahasiswa jurusan Sosiologi angkatan 2003, aktif di lingkar studi FORSA, dan sedang mencoba ‘membangun’ lingkar studi sejenisnya.


Posted at 09:53 am by el_ferda
Make a comment  

Friday, May 05, 2006
'SMS'

Suatu Tempo SMS

 

            Aku lupa kapan SMS itu tepatnya datang. Yang jelas SMS dari orang tuaku itu sekarang menjadi beban pikiranku sendiri. Katanya, “Uangnya diirit-irit, sekarang bapak praktis gak kerja. Kamu bisa gak lulus 3,5 tahun?” Siapa pun orangnya mendengar SMS seperti itu pasti akan berfikir ulang tentang kuliah, aktivitas, dan seterusnya.

            Saat ini apa yang aku lakukan. Aku hanya membalasnya dengan sedikit tenang, “Ya ku usahakan irit. Itu tidak bisa, KKN aja aku belum. Aku turut prihatin”. Aku hanya bisa bilang itu saja. Bulan Juli nanti aku ke Bali, mata kuliah KKL. Ongkosnya Rp. 555.000, ditambah bayar kurangan kos Rp. 550.000, ditambah uang kos baru RP. 400.000 (separuh dari total). Bulan Juli – September, orang tuaku harus menyediakan lebih-kurang Rp 1.500.000.

            Apa yang akan aku lakukan. Saat ini aku menerima tawaran temenku, buat nerbitin semacam news letter buat anak SMA. Semoga saja dapat memberi tambahan uang jajanku. Aku harus bagaimana?

            Jelasnya lulus cepat juga tidak menjanjikan. Aku harus kerja, saat ini. Tapi kerja apa? Aku bingung?!


Posted at 09:47 am by el_ferda
Make a comment  

Saturday, March 25, 2006
curahan hati

Rizki yang Tak Terduga nan Membahagiakan:

Semacam Catatan Perjalanan[1]

Oleh: Firdaus Putra Aditama[2]

 

                Jam 11.00 WIB, setelah aku mengikui seminar proposal seorang teman, aku diundang untuk menghadap seorang dosen perempuan, tepatnya ibu dosen yang terbilang berparas ayu. Tanpa aku tahu, ternyata ibu dosen masih ingat tentang persoalanku beberapa tempo yang lalu. Intinya, ia belum bisa membantuku. Ia hanya bisa memberikanku sejumlah uang, yang menurutnya “ini sekedarnya untuk beli pulsa, maaf ibu belum bisa membantu”, ucapnya dengan santun dan bijaksana.

                Tanpa sungkan aku terima uang itu, terlepas dari ibu dosen itu memintaku untuk tidak menolaknya. Aku jadi teringat, pagi hari ketika aku mengunci pintu kamarku untuk pergi ke kampus, mata kananku kedutan. Meskipn hanya mitos, nampaknya aku harus sedikit mempercayai kebenarannya. Karena terbukti, rizki Tuhan datang secara tiba-tiba, tanpa pernah aku duga.

                Aku berjalan menuju ke sebuah toilet, bukan untuk buang air, tetapi untuk melihat berapa jumlahnya. Dan aku lakukan bukan untuk menilai kebaikan hatinya melalui jumlah uang itu. Hanya saja aku harus tahu jumlahnya, untuk kemudian aku atur untuk apa, yang jelas uang itu harus bermanfaat.

                Sembari jalan, dan masih berfikir, aku ingat kalau di pojok kampus sedang diadakan bazar buku. Menurutku tidak salah jika uang itu aku belanjakan sebagian untuk membeli ‘material ilmu’ itu. Aku kunjungi stand bazar itu. Aku pilih-pilih. Dan akhirnya dua judul buku aku ambil; Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, sebuah kumpulan esei dari eseis Indonesia, Goenawan Mohammad. Khusus untuk beliau, aku pernah bertemu dan cukup dekat jarakku sewaktu itu, karena berada di depanku untuk menyampaikan sejumlah materi di sebuah workshop yang aku ikuti bulan Maret 2005 yang lalu. Dan ada hal yang lebih menarik, adalah bahwasanya beliau berangkat dari rumpun kelahiran yang tidak jauh dari kota kelahiranku. Batang, sebuah kota dekat Pekalongan. Kulturnya pun tidak berbeda jauh, dan sedikit-banyak muda-mudinya sering ke Pekalongan, sekedar hanya untuk jalan-jalan atau main ke tempat temannya. Hanya 30 menit dari Pekalongan.

                Memang, ada keinginanku untuk tahu bagaimana sosok Mas Gun, sapaan akrabnya di tengah-tengah koleganya, tapi apakah aku pantas menyapanya dengan frasa itu? Biarkan saja, aku memang sedang melakukan proses mobilitas kelas, suatu tempo di masa depan, semoga. Aku tertarik dan ingin tahu bagaimana kesuksesanya tercapai. Yang jelas masa remaja Mas Gun lebih dirasakannya di Pekalongan; SLTP, SLTA. Baru setelah SLTA beliau melanjutkan perguruan tinggi di Jakarta. Mungkin, mulai dari titik itulah garis hidupnya menemukan pertegasan.

                Dan buku kedua, Islam Liberal dan Fundamental; Sebuah Pertarungan Wacana. Aku pilih buku itu karena beberapa alasan; pertama, karena di sudut atas Ulil Abshar-Abdalla tercatat sebagai penulis. Jadi, ada semacam garansi tentang kelaikan buku itu. Dan sayangnya, isi buku itu sedikit mengecewakan. Aku seperti kena tipu, memang ketika aku pilih, aku tidak membacanya, alih-alih buku itu masih dalam bungkus plastik yang rapi. Dan aku seringkali sebal kalau membeli buku yang terbugkus rapi, seperti membeli kucing dalam karung. Dua kali aku mengalami hal ini, pertama di Jogja Agency – Karang Wangkal.

                Ternyata buku itu hanya buku suntingan. Suntingan dari berbagai penulis lepas di beberapa media sebagai bentuk apresiasi ketika Ulil melontarkan idenya tentang ‘Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam’ (Kompas, 18 November 2002). Uraiannya pun dibedakan menjadi sebatas pro-kontra atas tulisan Ulil di Kompas yang sempat membuat geger itu. Tidak ada hal baru yang aku dapat dari buku ini, kecuali akumulasi informasi yang cukup sistematis. Benar-benar sebal. Padahal aku sempat ingin memilih Islam di Tepian Revolusi, buku milik seorang dosen Universitas Muhammadiyyah Surakarta, Sarbini. Aku sempat bertemu langsung dengannya di sebuah acara workshop, beberapa minggu yang lalu. Sempat juga ngobrol panjang-lebar tentang gerakan, pemahaman Islam, kontelasi politik kontemporer dan sebagainya. Memang, kami tidur di satu ruangan dengan empat teman lainnya.

                Khusus untuk Ulil, aku juga pernah bertemu langsung dengannya, dan sempat ngobrol langsung juga. Memang, ngobrol dengan Ulil, meskipun dia sudah berkeluarga, tetapi semangatnya masih mendidih, membakar, dan menggebu-gebu. Tidak heran jika ketika dia menyemaikan ide tentang liberalisme Islam, dia banyak menuai kritik. Aku hanya beranggapan, hal ini dimungkinkan karena darah mudanya yang masih kental. Berbeda dengan Guru Besar-ku (sekali lagi klaim sepihak dariku) Nurcholis Madjid (alm) yang lebih arif lagi santun dalam melontarkan ide-ide serupa. Atau dengan Gus Dur dan beberapa ulama atau cendekiawan muslim lainnya yang juga lebih arif dan santun.

                Alasan kedua, aku memiliki pemahaman yang sealur dengan apa yang dikembangkan oleh Ulil, Cak Nur, Gus Dur, Harun Nasution, dan beberapa tokoh sekaliber dan se-frame, karena pemahaman mereka sesuai dengan frame pemahamanku selama ini. Mulai dari SLTA, ketika aku masih di Kediri[3], aku sudah mengkonsumsi dan ‘teracuni’ oleh ide-ide liberalisme Islam itu. Dan benar, dampak besarnya aku rasakan ketika aku menjadi seorang pemberontak terhadap struktur. Ketika itu Romo Yai Imam Yahya Mahrus mengeluarkan kebijakan tentang kos makan[4]. Aku miris ketika melihat kebijakan itu berbunyi “Barang siapa santri yang tidak kos makan, maka silahkan keluar dari pondok ini!”. Kebijakan yang bagiku, sewaktu itu, sangat memprihatinkan. Bagaimana pendidikan (agama) harus digantungkan pada sekedar persoalan ‘makan’. Sungguh masalah yang bagiku amat memalukan. Tanpa mengurangi rasa hormatku pada Romo Yai, akhirnya aku keluar tanpa sowan terlebih dahulu. Aku takut kuwalat dan tidak mendapat barokah-nya jika masih tetap di pondok itu. Karena setiap hari aku menyebarkan benih-benih perlawanan kepada pengelola pondok, perlawanan untuk menolak kebijakan kos makan yang kurang tepat itu.

                Meskipun aku sempat bersimpati pada liberalisme Islam tentang bagaimana visinya untuk memerdekakan kebebasan berfikir, memposisikan agama dalam ruang yang tepat (privat) dan sebagainya, tetapi sekarang rasa simpatiku berkurang. Ketika aku mengikuti workshop ‘Agamawan Merespon Kemiskinan’ di Baturraden, aku menemukan pilihan keberagamaan yang lebih tepat untuk saat ini. Bagaimana agama dimaknai dalam kerangka pembebasan manusia dari masalah-masalah kehidupannya. Agama bukan hanya membicarakan Surga-Neraka, dosa-pahala tetapi mampu menjadi panacea ketika angka kemiskinan terus merangkak sejalan dengan angka pengangguran. Atau bagaimana ketika gurat-gurat globalisasi menjadi sedemikian rupa menguasai Indonesia[5].

Dulu mungkin aku Ulil-ian, namun sekarang aku Abdurrahman-ian. Moeslim Abdurrahman, tokoh Muhammadiyyah dengan gagasan Islam Transformatif-nya, sebenarnya ketika di stand bazar aku ingin membeli satu karyanya Islam sebagai Kritik Sosial. Tetapi, baru kemarin aku mendapatkan bukunya, Islam yang Memihak, secara cuma-cuma. Sosok yang kebapakan ini sempat juga aku ikuti ceramahnya secara langsung di acara yang sama. Begitu arif, santun dan sesekali menyelinginya dengan joke yang menyentil. Mungkin, saat ini perkembangan intelektualku masih dalam pencarian, dan belum final, alih-alih tidak akan pernah final!  

                Sorenya, aku belikan voucher  pulsa IM3 Rp. 10.000. Ketika di counter sempat aku berfikir untuk membelanjakan uang itu untuk mengganti HP-ku yang kurang sehat. Tetapi, apa sih fungsinya HP selain alat komunikasi? Aku belum butuh. Biarkan suatu tempo aku beli dengan uang jerih-payahku sendiri.

***

                Sisa uang menjadi Rp. 50.000, selain aku gunakan untuk membeli buku Rp. 80.000, pulsa, aku juga menyempatkan untuk sesekali ‘makan enak’. Lalu, malamnya aku pergi ke warnet, sekedar untuk check mail, friendster; ada dua mail masuk, aku balas. Satunya dari temanku yang ada di Al-Azhar, Kairo – Mesir. Dan satunya teman yang sempat aku temui di ruang maya, via yahoo messenger.

                Di tengah perjalanan pulang, aku sempatkan membeli satu roti bakar, di pinggir Jalan Kampus. Bukan untuk aku makan, tetapi aku berikan kepada dua temanku (sekelasku) yang bermukim di majid Darul Hikmah, depan lapangan Grendeng. Aku tahu persis bahwa mukimnya dia di masjid bukanlah pilihan tentang sikap religiusitas, terlepas memang orangnya religius, tetapi lebih karena orangtua mereka yang kurang mampu. Aku paham betul karena sempat aku menginap di rumahnya beberapa hari, Desa Cibangkong, Pekuncen, Ajibarang. Bagaimana sulitnya dia mencari uang untuk membayar KKL (tour de Bali) aku pun sedikit-banyak paham. Sempat suatu malam ia mengeluh tentang KKL, intinya jika KKL menghabiskan Rp. 500.000, orangtuanya tidak mampu.

                Sembari mengutip satu ayat (kaligrafi) yang terpampang di tembok kamar masjid itu, aku berkata “Tuhan sudah bilang, bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya!”. Lalu aku lontarkan, bagaimana jika kita usulkan untuk melakukan subsidi silang bagi mahasiswa yang kurang mampu? Ia pun setuju, dan antusias. Esoknya aku sampaikan di kelas, sedikit mengambil empati teman-teman dan akhirnya clossing commitment aku ambil bahwa uang Rp. 50.000 dari fakultas untuk setiap mahasiswa pengambil mata kuliah KKL akan dialokasikan kepada teman-teman yang kurang mampu. Syukur seluruh teman-teman mensepakatinya.

                Roti bakar itulah salah satu kebaikan dari kebaikan yang aku lakukan. Bukankah kita hanya sebatas menjadi kran rizki dari Tuhan untuk manusia kepada yang lainnya. Dari ibu dosen, ke aku dan akhirnya ke temanku. Semoga dua temanku dapat menikmati rizki yang datang secara tiba-tiba dan tidak pernah terduga, seperti aku. Meskipun hanya sekedar roti bakar yang kurang bernilai.

                Belum sempat aku pulang ke kos, aku mampir di tetangga sebelah. Rumah Pak Narsudi, tukang kayu yang kesehariannya mengandalkan pesanan barang. Sayangnya saat ini, menurutnya, sedikit pesanan barang dan itu membuat pikiran pusing. Memang aku sering bertandang ke rumhnya, sekedar untuk ngobrol bareng dengannya, anaknya. Atau juga ikut menikmati rokok lintingan dari tembakau yang dibelinya di pasar. Beberapa kali aku ngobrol, bolak-balik beliau mengeluh tentang keadaan ekonomi keluarganya. Sempat juga suatu malam (kira-kira jam 11.30) aku dapati beliau masih di depan rumah, sendirian, dengan lampu yang mati. Aku sapa, dan ternyata beliau masih bingung bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak dua juta rupiah untuk membayar utang BKK yang lima hari lagi jatuh-tempo. Aku ikut menghela nafas, memahami bagaimana bingungnya Pak Narsudi yang memiliki empat anak. Tiga di antaranya masih ikut bersamanya; Agus, Endi dan yang bontot aku kurang mengenalnya. Anak tertua sudah menikah. Tinggal di Karang Wangkal.

                Dan malam ini aku menyapanya lagi. Duduk di beranda rumahnya, di sekeliling aku masih melihat tumpukan beberapa balok kayu. Tidak berkurang dari beberapa minggu yang lalu. Keluhnya, “Coba andaikata gunung Slamet mbledug, selesai semuanya!”. Ungkapan yang keluar dari Bapak empat anak ini yang mungkin sudah jengah dengan panasnya matahari kehidupan.

                Bagiku beliau adalah orangtua – desa yang cukup cerdas. Beliau mampu membaca kebijakan BLT / SLT yang dikeluarkan SBY. Katanya, seharusnya uang yang jumlahnya triliunan itu jangan diberikan dalam bentuk uang tunai, tetapi dirubah menjadi pabrik-pabrik dan sebagainya. Apa yang ingin Pak Narsudi sampaikan adalah anggaran untuk BLT lebih akan optimal jika dialokasikan pada infrastruktur masyarakat, daripada sekedar Rp. 300.000 yang habis dalam hitungan hari, bahkan jam.

                Sembari tetap melayani obrolan-nya (yang seringkali aku temukan hal baru, entah itu istilah-kata atau kearifan-kearifan lokal lainnya, khususnya Banyumasan) aku berfikir, bagaimana aku dapat membantunya? Aku teringat satu mata kuliah, jika tidak salah Sosiologi Pedesaan. Ketika itu sang dosen (kebetulan seorang ibu juga) mengungkapkan tentang konsep redistribusi ekonomi. Ia pun pernah mempraktekan hal tersebut, ketika meminta tetangganya untuk membereskan atap rumahnya yang bermasalah. Sebenarnya bukan masalah atap yang bermasalah  yang sang ibu dosen tekankan, tetapi bagaimana membantu memberdayakan ekonomi tetangganya dengan memberi ‘pekerajaan temporer’.

                Cerita itu aku fikirkan masak-masak. Antara aku mencontohnya sebagai bentuk kepedulian sosialku, atau aku harus kehilangan uang untuk memesan rak buku yang sebenarnya kurang aku butuhkan, untuk saat ini. Setelah aku timbang-timbang, dengan alasan redistribusi ekonomi, aku pesan satu rak buku kepada Pak Narsudi. Beliau katakan harga satu rak Rp. 25.000, itu pun sebenarnya nipi hanya dapat ongkos Rp. 9000 saja untuk ngode-nya, sisanya untuk kayu, paku dan sebagainya. Antara boros dan membantu, aku niatkan untuk membantu. Kali keduanya, kebaikan dari kebaikan. Ibu dosen ke aku, dan akhirnya ke Pak Narsudi. Sekarang sisa uang tinggal Rp. 20.000.

***

                Aku berfikir, apakah aku boros? Semoga tindakanku seharian tadi bukan tergolong pada perbuatan penyia-nyiaan sumberdaya ekonomi. Dan aku masih berharap, semoga sisa uang Rp. 20.000 itu dapat aku gunakan untuk hal yang bermanfaat. Satu hari ini aku menghabiskan Rp. 130.000. Semoga nilai nominal ini tidak berarti selaras dengan keinginanku untuk tidak bersikap pelit (underestimate) atau juga berlebihan (overestimate).

                Kepada ibu dosen yang murah hati, aku haturkan rasa terimakasihku dalam bentuk rentetan perjalanan ‘si uang’. Semoga tindakanku tidak menyalahi keinginan ibu untuk berbaik hati kepadaku. Semoga ibu masih tetap sama, memliki kepedulian yang besar kepada realitas sosial yang cukup timpang. Aku memohon kepada Tuhan Yang Maha Kasih, semoga amal ibu dibalas-Nya, dengan cara yang tiba-tiba dan tak pernah terduga. Sungguh spontanitas yang membahagiakan. []



[1] Aku dedikasikan tulisan ini pada seorang ibu dosen yang dengan kebaikannya, aku bisa berbuat baik pada beberapa orang.

[2] Dalam kegelisahan, mencoba menikmati hidup dengan memilih sebagai seorang ‘pemikir’.

[3] MA HM Tribakti Lirboyo – Kediri, satu yayasan dengan pondok pesantren HM Putra Al-Mahrusiyyah Lirboyo – Kediri (dulu namanya HM Putra Lirboyo – Kediri). Karena kurang nyamannya atmosfir pesantren sewaktu itu, aku men-drop-out-kan diri secara terhormat. Sebenarnya, darahku bukan darah santri. Meskipun ayah (Rembang – Jateng), mbak (Tegalrejo – Magelang), mas ku (Lirboyo) adalah seorang santri, atau pun Pekalongan yang juga Kota Santri, selain Kota Batik, tetapi aku tidak bisa menyelaminya, menghayatinya.

[4] Yakni makan sehari-hari para santrinya dikelola oleh pengurus pondok, dengan membayarkan sejumlah uang untuk satu bulan. Pengambilan makanan seperti pengambilan makanan di tempat penampungan; antri dan berjubel. Rumornya, kebijakan itu berasal dari Ibu Nyai. Sayangnya makanan yang disajikan kurang menarik (selera dan gizi), lebih menarik makan di warung atau kantin pondok sekitar.

[5] Kondisi terkahir, Exxon Mobile telah mendapatkan hak untuk blok Cepu dengan pembagian hasil 45% untuk Exxon, 45% untuk Pertamina dan 10% untuk Pemda. Eksploitasi akan dimulai, menyusul Freeport yang tidak karuan jluntrungnya.


Posted at 01:18 pm by el_ferda
Make a comment  

Sunday, March 12, 2006
pendidikan yang mahal

Scarcityzation of Education

Is a Sign of Post-industrial Society

 Oleh: Firdaus Putra Aditama

 

Dari pra, hingga pos-industri

            Seiring dengan perkembangan adaptasi manusia di muka bumi ini, yang tentunya dibantu dengan kapasitas yang ia miliki, sejarah manusia atau sejarah dunia semakin berwarna-warni. Perkembangan sejarah manusia ini tidak dapat dilepaskan dari konteks pengalaman atau pun kondisi yang mengelilinginya. Perkembangan awal sejarah manusia, dicatat oleh Bell (dalam Poloma, 2000: 380) sebagai, "permainan menentang alam" atau "pergulatan menguasai alam" dengan bergantung pada "kekuatan otot telanjang". Artinya, pada masa awal yakni masa pra-industri manusia melakukan kerja sebagai upaya untuk menjaga eksistensinanya dengan melalui penundukan alam. Penundukan alam atau penguasaan ini pada masa itu bukanlah seperti masa kini yang dibantu dengan berbagai teknologi yang mengagumkan. Melainkan hanya alat bantu sederhana yang mampu memproduksi barang ala kadarnya, sehingga hasil produksi hanya dimungkinkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

            Berbeda dengan perkembangan masyarakat industri, di mana mereka telah mampu menggunakan akal-pikirnya untuk menemukan sebuah teknologi yang mampu memproduksi barang dalam jumlah massal, sehingga barang tersebut lebih diorientasikan pada profit atau keuntungan ekonomis. Perkembangan masyarakat industri ini paralel dengan perkembangan kecerdasan manusia ketika Revolusi Industri sebagai puncaknya lahir di belahan Eropa. Dan pantas jika masa kejayaan sejarah umat manusia itu kita kenal dengan Renaisence atau Aufklarung, yang artinya adalah 'Masa Pencerahan'. Masa ini ditandai dengan banyaknya penemuan-penemuan teknologi, seperti mesin uap, kereta api, kapal api, pesawat telepon sederhana, hingga perkembangan yang paling mutakhir adalah kereta rel listrik, kapal selam, telepon seluler, dan seterusnya. Pada masa itu, umat manusia, hingga sekarang benar-benar hidup dalam sebuah kenyamanan, kecepatan dan yang pasti kenikmatan yang tanpa henti.

            Sedangkan Bell (Ibid.) menguraikan masyarakat industri sebagai kehidupan adalah pergulatan menguasai alam. Dunia menjadi semakin teknis dan rasional. Mesin berkuasa, dan ritme kehidupan ditempuh secara mekanis; waktu merupakan kronologis, metodis, bahkan terpisah-pisah. Energi sudah menggantikan otot dan menyediakan tenaga kerja sebagai basis produktivitas dan bertanggung jawab bagi keluaran (out-put) barang-barang massal yang merupakan ciri masyarakt industri. Energi dan mesin sudah menggantikan hakikat kerja.

            Pada sisi lain masyarakat industri diandaikan oleh Kuntowijoyo (dalam Idi subandy Ibrahim, 2004: xxix) sembari memimjam istilah McClelland sebagai the achieving society. Beliau mengandaikan bahwa dalam konstruksi masyarakt industri, masyarakat haruslah memiliki budaya industrial. Sebuah budaya yang bertolak belakang dengan budaya birokratis, yakni suatu sistem kepribadian yang memungkinkan orang menjadi aktif dalam mencari pemenuhan kepuasan kreatif yang memerlukan lingkungan simbolis tertentu (Ibid.)

            Sedangkan perkembangan kontemporer, ditandai dengan tidak popularnya produksi barang (material) dan lebih mesin-mesin produksi lebih tertarik pada ranah penyediaan jasa. Masa inilah yang kita sebut dengan masa pos-industri. Daniel Bell (dalam Poloma, 2000: 377-379), seorang sosiolog berkebangsaan Amerika mengemukankan karakter masyarakat pos-industri dalam lima dimensi atau bagian. Pertama, menyangkut sektor ekonomi, di mana masyarakat penghasil barang beralih menjadi masyarakat penghasil jasa. Karena industri suatu bangsa semakin maju. Artinya semakin besar prosentase tenaga kerja yang bergerak meninggalkan sektor pertanian atau perkebunan menuju sektor manufaktur ekonomi. Karena terjadi kenaikan pendapatan nasional, sebagai konsekuensi dari transisi itu, maka permintaan di sektor jasa semakin besar.

            Kedua, dimensi ini terjadi pada lapangan pekerjaan. Pada masa ini, keunggulan kelas profesional dan teknis bertambah secara drastis. Para profesional ini seperti para ilmuwan, insinyur, teknisi, guru dan sebagainya. Ketiga, dimensi "pemusatan pengetahuan teoritis", bahwa penguasaan pengetahuan teoritis yang abstrak lebih dihargai daripda pengetahuan empiris. Penguasaan pengetahuan teoritis ini dimaksudkan dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan. Keempat, orientasi masa depan, yang mengendalikan  teknologi dan penaksiran teknologis. Dengan kata lain, masyarakat pos-industri berencana memgontrol pertumbuhan teknologi itu, daripada "membiarkan segalanya terjadi". Dan terakhir, pencipataan "teknologi intelektual". Dimensi ini berhubungan dengan metode atau cara-cara memperoleh pengetahuan serta mencakup penggunaan pengetahuan ilmiah untuk memperinci cara melakukan sesuatu dengan cara yang dapat diulang melalui substitusi aturan-aturan.

            Meskipun hipotesis Bell diutarakannya dalam konteks Amerika pada tahun 70-an, tetapi perkembangan kekinian menunjukan hipotesis itu akan semakin menemukan legitimasi yang kuat. Dan tidak terlalu mengkhawatirkan juga jika hipotesis itu kita tarik dalam konteks Indonesia yang menemukan beberapa titik persamaan berkenaan dengan menguatnya kelas-kelas profesional serta orientasi produksi jasa yang semakin menanjak seiring dengan kebutuhan masyarakat.

 

Pelangkaan pendidikan,

sebuah tanda masa pos-industri di Indonesia

            Judul serta sub-bab ini mengambil titik berat pada frasa 'tanda pos-industri', artinya bahwa dalam konteks keindonesiaan, masa ini belum datang menjadi sebuah pengalaman sejarah bangsa. Tetapi, tanda atau sinyalemen untuk memasuki ke arah sana telah terbaca dengan tanda yang akan penulis analisis sebagaimana di bawah, khususnya dalam bidang pendidikan.      

            Pengambilan exemplar bidang pendidikan berangkat dari pengalaman riil penulis, serta kemudahan mengakses sejumlah informasi dan data. Selain itu, isu pendidikan adalah isu yang selalu menarik untuk dibincangkan, seperti dalam tulisan ini yang mengambil sudut pandang lain. Sedangkan pendidikan dalam tulisan ini lebih dipersempit pada pendidikan tinggi, sekali lagi hanya sebagai eksemplar.

            Dalam konstitusi kita, UUD 1945, bahwa negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa serta warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak bagi kehidupannya. Amanat konstitusi tersebut coba diperjelas melalui alokasi 20% APBN bagi sekor pendidikan. Dan tentu yang menarik adalah, dua pernyataan normatif itu terbantah ketika kita menemukan realitas di lapangan seperti yang diungkap Mantan Mendiknas Malik Fadjar (dalam Kompas, 23 April 2004 dikutip Arif Hatta untuk Buletin Ekolistik hal: 22), bahwa masyarakat yang bisa mengakses perguruan tinggi hanya 3% berasal dari keluarga miskin sementara sisanya dari kelas menengah-ke atas. Artinya, dari 100% penikmat pendidikan tinggi 97% di antarnya adalah golongan the have secara ekonomis. Di mana hal ini menunjukan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi mempunyai korelasi yang erat dengan kemampuan ekonomi keluarga.

            Hatta (Ibid.) mencatat realitas mahalnya pendidikan tinggi diperkuat dengan pengurangan subsidi pendidikan yang menurutnya terkait dengan adanya perjanjian pemerintah Indonesia dengan International Monetery Fund (IMF) yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI) pada tahun 1999. Masih menurutnya, pada tahun 2003, World Trade Organization (WTO) dalam General Agreement of Trade in Service (GATS) telah membuka penguasaan pasar (monopoli) di sektor jasa. Dalam perundingan itu, pendidikan tinggi dimasukan dalam industri sektor jasa bersama 11 bidang jasa lainnya di mana kesepakatan ini telah mulai dilaksanakan pada tahun 2005 (hal ini juga dapat dilihat dalam Stop WTO; Dari Seatle Sampai Bangkok, hal: 100).

            Indikasi menguatnya memposisikan pendidikan sebagai penjualan produk jasa semakin menguat ketika diterapkannya kebijakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PP No. 61 tahun  1999 tentang Penetapan PTN sebagai Badan Hukum. Dan semakin menguat kembali ketika pemerintah mengeluarkan PP No. 152-155 tahun 2000 yang memaksa empat PTN besar Indonesia yaitu ITB, UGM, IPB serta UI masuk dalam logika penyedia produk jasa bagi masyarakat (lihat Sketsa, hal: 10).

            Beberapa kebijakan negara di atas telah menyiratkan bahwa keinginan untuk menjadikan pendidikan sebagai produk jasa yang dapat diperjual-belikan semakin kentara. Kebijakan yang pada akhirnya menjadikan biaya pendidikan di beberapa PTN yang tersebut di atas, serta PTN atau pun PTS lainnya semakin tinggi-mahal.

            Hal ini terjadi selaras dengan metamorfosa kapitalisme, seperti yang penulis paparkan di atas, bahwa saat ini kapitalisme tengah memfokuskan diri pada produksi jasa. Kapitalisme ini menyeruak masuk dalam dunia pendidikan melalui berbagai rasionalisasi di antaranya, demi tetap eksisnya lembaga pendidikan. Yang perlu digarisbawahi adalah, apa yang telah dilakukan kapitalisme melalui sistem tentunya, adalah menjaga kelangsungan lembaga (baca: wadag) bukan menjaga pendidikan (baca: ruh) itu sendiri. Atas nama biaya operasionalisasi pendidikan menjadi barang yang mahal dan masyarakat terpaksa membelinya.

            Pertanyaan yang pantas diajukan selanjutnya, kenapa masyarakat tetap membeli jasa itu, meskipun mereka tahu jasa itu mahal atau dimahalkan? Hal ini akan penulis analisis dengan mengawalkan analisis bagaimana pendidikan berada di masa  pos-industri.

            Seperti kita ingat di atas, bahwa gejala pos-industri ditandai oleh penguasaan pengetahuan (teoritis) selain itu juga adalah lebih dihargainya kaum profesional dari pada sekedar kelas pekerja biasa, sehingga agar kita dapat hidup dalam logika tersebut, kita harus menyamakan langkah, yakni dengan memiliki sejumlah kompetensi yang dibutuhkan pada masa itu. Artinya, masyarakat memilih pendidikan meskipun sudah menjadi komoditas dan mengalami pelangkaan (scarcityzation) terhadap aksesnya, agar harapan mereka tentang kelayakan kerja (baca: hidup) dapat tercapai.

Logika semacam itu pula yang akhirnya menggiring pendidikan kita menganut 'paradigma' Link and Match. Ace Suryadi (dalam Prisma, hal: 75-76) menggambarkan Link sebagai 'keterkaitan' di mana program-program pendidikan memiliki pertautan yang jelas dengan kebutuhan pasar. Pasar di sini diartikan dalam suatu perspektif yang luas yang sejajar dengan konsep Educational Constituency, yakni sebagai pihak yang memakai dan menikmati jasa atau kepentingan dengan sistem pendidikan. Masih menurutnya, dengan mengutip Sarason, Educational Constituency, dapat meliputi murid, guru, administrator, pemerintah dan sebagainya. Dengan demikian, program-program pendidikan secara fungsional dapat melayani kepentingan dari—atau dapat dilayani oleh—seluruh konstituensi pendidikan.

Sedangkan Match diterjemahkan sebagai 'kesepadanan'. Artinya program pendidikan yang sudah terkait dengan berbagai kepentingan tersebut harus disamakan dengan jumlah, tingkat mutu, atau nilai yang dipersyaratkan oleh—termasuk perubahan kepentingan yang akan terjadi—konstituensi pendidikan. Dan dalam konteks pendidikan tinggi atau pun lainnya, hal tersebut terejawantah melalui Ketetapan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 yang mensyaratkan sebuah rambu-rambu dalam pelaksanaan pendidikan yang didasarkan pada kompentensi program studi yang bersangkutan, berwujud Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dengan pendek kata sebuah kurikulum yang menjawab tuntutan pasar (lihat Sketsa, hal: 16).

Pelangkaan pendidikan dengan memangkas akses tentunya akan sejalan dengan logika ekonomi, bahwa kebutuhan manusia adalah tidak terbatas, sedangkan alat (baca: barang atau jasa) untuk memenuhi kebutuhan itu adalah terbatas. Sehingga manusia harus merelakan sejumlah sumberdaya yang ia punyai untuk mendapatkannya. Logika ekonomis inilah yang dipaksakan pada sektor pendidikan, yang akhirnya mau tidak mau, pendidikan menjadi komoditas, seperti barang dagangan di pasar. Ia langka, mahal dan selalu dibutuhkan.

Selain itu, menguatnya keinginan masyarakat untuk memperoleh jasa pendidikan di masa pos-industri dewasa ini sejalan dengan hipotesis yang diajukan Bell sebagaimana penulis paparkan di atas, bahwa pertama, karena industri suatu bangsa semakin maju maka prosentase tenaga kerja yang bergerak meninggalkan sektor pertanian atau perkebunan menuju sektor manufaktur ekonomi. Karena terjadi kenaikan pendapatan nasional, sebagai konsekuensi dari transisi itu, maka permintaan di sektor jasa semakin besar. Kedua, dimensi ini terjadi pada lapangan pekerjaan. Pada masa ini, keunggulan kelas profesional dan teknis bertambah secara drastis. Ketiga, dimensi "pemusatan pengetahuan teoritis", bahwa penguasaan pengetahuan teoritis yang abstrak lebih dihargai daripda pengetahuan empiris. Keempat, orientasi masa depan, yang mengendalikan  teknologi dan penaksiran teknologis. Dan terakhir, pencipataan "teknologi intelektual". Dimensi ini berhubungan dengan metode atau cara-cara memperoleh pengetahuan serta mencakup penggunaan pengatahuan ilmiah untuk memperinci cara melakukan sesuatu dengan cara yang dapat diulang melalui substitusi aturan-aturan.

Lima hipotesis tersebut menemukan kesejajarannya dengan pengalaman pendidikan di Indonesia serta penerapan paradigma Link and Match sebagai bentuk ketundukan pendidikan terhadap logika pasar. Lima hipotesis tersebut semakin menemukan pembenarannya, sekali lagi di Indonesia, ketika Indonesia menggabungkan diri dengan sistem perdagangan global, melalui WTO.

Meskipun Indonesia secara penuh belum dapat dikatakan telah memasuki masa pos-industri, paling tidak, tanda-tanda  menuju ke arah sana semakin jelas. Tanda tersebut dapat kita lihat pada nasib dunia pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) yang sudah diperjual-belikan layaknya barang dagangan. Dan hal ini sesuai dengan logika pos-industri bahwa produksi tidak lagi berfokus pada penyediaan barang, melainkan pada penyediaan jasa yang salah satunya termasuk pendidikan.

            Hal ini semakin terang dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan pemerintah yang berorientasi pro-pasar, di antaranya; PP No. 61 tahun 1999, PP. No. 152-155 tahun 2000 dan Kepmen Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 yang merupakan kerangka praktis pengabdian kepada pasar dengan bentuknya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau dalam istilah di masa 90-an lebih akrab dengan Link and Match.

            Meskipun kerangka teoritis yang dilontarkan Bell lahir dalam pengalaman Amerika, tetapi, dengan terintegrasinya negara-negara (baik Dunia Pertama maupun Dunia Ketiga) dalam satu sistem global, menjadikan kerangka teori tersebut cukup relevan untuk diterapkan dalam konteks Indonesia. Hal ini terjadi ketika Indonesia telah bergabung dengan sistem perdagangan bebas atau kapitalisme global melalui WTO.

 

Semacam penutup 

            Ketika pendidikan sudah dimasuki virus kapitalisme, maka pendidikan mahal sebagaimana barang dagangan yang langka (scarcity) adalah konsekuensi logisnya. Hal ini sesuai dengan logika ekonomi tentang kelangkaan barang dan/atau jasa yang harus ditebus-dibayar dengan mengorbankan sejumlah uang. Dan sayangnya hal ini tetutupi dalam mitos, untuk layaknya hidup di hari esok.

            Virus kapitalisme juga yang telah merubah orinetasi pendidikan hanya sekedar ngurusi wadag, dan kurang memperhatikan esensi atau semangat yang sebenarnya. Dalam bahasa praktisnya, pendidikan saat ini terjebak pada logika 'pekerjaanisme' dan jauh meninggalkan semangat sucinya, 'humanisme'.

 

Referensi

 

Kuntowijoyo. 2004. 'Pengantar' dalam Idi Subany Ibrahim. Dari Nalar Keterasingan Menuju Nalar Pencerahan: Ruang Publik dan Komunikasi dalam Pandangan Soedjatmoko. Yogyakarta: Jalasutra.

 

Poloma, Margaret M. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Setiawan, Bonnie. 2000. Stop WTO; Dari Seatle Sampai Bangkok. Jakarta: INFID.

 

 

Sumber lain

Anonim. 2003. "Mengubur Peradaban: Meneropong Pendidikan dalam Telikungan Globalisasi" dalam Sketsa. Edisi September. Purwokerto: LPM Sketsa.

 

Anonim. 2003. "Kurikulum Menjawab Tuntutan Pasar" dalam Sketsa. Edisi September. Purwokerto: LPM Sketsa.

 

Hatta, M. Arif. 2005. "Menggugat Kembali Pendidikan Indonesia" dalam Ekolistik. Edisi Desember. Purwokerto: LPM MEMI.

 

Suryadi, Ace. 1994. "Pengembangan Sumberdaya Manusia Menjelang PJP II" dalam Prisma. Edisi Maret. Jakarta: LP3ES.

 


Posted at 09:44 am by el_ferda
Make a comment  

Monday, March 06, 2006
agama dan kemiskinan

 Menyoal Kemiskinan, Menyoal Agama

Oleh: Firdaus Putra Aditama[1]

 

Agama adalah untuk manusia, bukan Tuhan.

Sehingga agama harus membumi, untuk kini dan di sini;

Bukan melangit, untuk lusa dan di sana.

(sepertinya bijak)

 

 Avant phropos

            Dalam beberapa bulan terakhir kita dibuat heran dengan banyak berita yang mennyuguhkan berbagai macam bencana. Bukan hanya bencana alam saja seperti banjir yang setiap tahunnya sudah menjadi tradisi. Atau tanah longsor akibat pembukaan, penebangan hutan yang semena-mena. Tetapi, bencana yang saya maksud adalah bencana kemanusiaan. Bencana yang setiap hari, bahkan setiap saat mampir di sekitar kita, bahkan mungkin di keluarga kita sendiri.

            Kemiskinan, busung lapar, gizi buruk, atau makan nasi aking yang sebenarnya tidak laik makan, dan seterusnya. Bencana kemanusiaan yang selalu menghinggapi negara di belahan Dunia Ketiga. Ketaktersediaan air bersih[2], minimnya pelayanan kesehatan, atau pun angka pengangguran yang semakin meningkat selaras dengan angka kemiskinan yang terus merangkak. Segudang masalah yang disediakan negeri ini yang mungkin tidak akan habis untuk kita teliti, kaji. Tetapi, sungguh ironis ketika bencana yang saya maksud di atas terjadi di tengah-tengah negara, yang konon katanya agraris. Bukankah ironis ketika di Karawang sebagai penghasil beras sebagian masyarakatnya justru mengkonsumsi nasi aking (nasi sisa, yang dikeringkan kemudian diolah lagi untuk dimakan).

            Segudang masalah di atas termanifestasikan ketika setiap hari kita saksikan tayangan berita kriminal selalu saja menemukan akar masalah yang sama. Seorang pencuri, jambret, maling yang tertangkap karena membutuhkan uang untuk memberi makan anak-istrinya. Saya rasa hal ini sangat berhubungan, antara kemiskinan dan kriminalitas. Tidak salah jika Muhammad SAW memberi semacam warning light bahwa kaadal faqru an yakuuna kufran, yang kurang-lebih bahwa kemiskinan seseorang akan menjadikan ia kafir (bertindak menyimpang dari ketentuan agama). Teks itu nampaknya sudah cukup teruji kebenarannya sebagai postulat agama.

            Tetapi apakah agama hanya akan berhenti saja pada titik pemberi legitimasi, bahwa ini benar, itu salah? Atau agama mampu memberikan semacam solusi alih-alih ilusi atas bencana kemanusiaan itu?

 

Agama, ilusi atau solusi?

            Orang seperti maling, jambret, tukang palak adalah kelompok yang seringkali mendapat dua kali lipat punishment. Bayangkan saja, mereka sudah secara ekonomi tidak berpunya, dan harus rela (terpaksa) menerima laknat dari Tuhan. Jadi, bukan lagi fakir-miskin tetapi kafir-miskin. Dan di sisi yang lain, tidak sedikit juga orang-orang yang hidup pas-pasan; kuli bangunan, petani yang setiap tahun merugi, nelayan yang dijanjikan mendapat subsidi solar, tetapi hanya janji kosong, buruh pabrik yang setiap bulannya harus masih kekurangan, dan selalu berfikir ketika kontrak kerjanya habis3 atau kuli gendong yang meletakan nasibnya pada orang-orang yang menyuruhnya, dan masih banyak ikon lainnya.

            Pada kelompok yang tersebut di akhir itu, ketika mereka telah jengah dengan ritual kehidupan yang menindas, memaksa, mencekam mereka mecari semacam perlindungan kepada agama. Berbeda dengan kelompok yang pertama, yang selalu saja diancam oleh agama. Ketika kelompok yang terakhir pergi beribadah, dan setiap kali juga para ustadz, kyai atau lainnya memberinya semacam peneduh di kala kepanasan menghadapi matahari kehidupan. Dengan gampangnya para ustadz, kyai atau lainnya itu4 memberi semacam taushiyyah, nasehat agar kita selalu bersabar, bertawakal, dan berserah diri kepada Tuhan. Sulitnya mencari nafkah adalah cobaan Tuhan, dan jika kita menghadapinya dengan penuh pasrah, maka Tuhan akan menggantinya dengan Surga?!

Dengan segala taushiyyah, nasehat yang menyejukan itu masyarakat sedang digiring untuk hidup di dunia lain—meminjam bahasa Munir Mulkhan, other wordly. Hidup untuk Surga di sana, yang akan kita dapatkan kelak di akhirat, mungkin semacam itu. Jika agama hanya termaknai sebatas dosa-pahala, Surga-Neraka maka agama sejatinya telah kehilangan semangat awalnya. Semangat pembebasan, bukankah para Rasul selalu berada di tengah-tengah orang miskin, tertindas bukan sebaliknya. Atau jika agama tetap dimaknai hanya dalam kerangka ‘ubudiyyah an sich maka agama telah menjadi ilusi, tercerabut dari akar kemanusiaan, maka buanglah agama!

            Lalu, bagaimana agama agar tampil sebagai solusi bahkan membumi di tengah-tengah umatnya? Dalam tradisi Kristiani mungkin kita mengenal bagaimana manusia harus menidirikan Surga Bapa di bumi ini5, yakni dengan jalan mendatangi alamat-alamat Tuhan Allah yang ada di bumi. Alamat-alamat tersebut adalah orang fakir-miskin, pengamen jalanan, pengemis, kaum miskin kota dan seterusnya. Dengan mendatangi alamat-alamat Tuhan Allah itu, maka manusia akan menemukan Surga Bapa yang sejatinya.

            Atau dalam tradisi Islam terdapat suatu hikayat, bagaimana seorang pelacur dimasukan Tuhan ke Surga lantaran memberi makan anjing, dan seorang ‘abbid6 justru dimasukan-Nya ke Neraka lantaran ia tidak saleh terhadap tetangga di sebelahnya yang kelaparan. Semangat yang ingin diperlihatkan dari hikayat ini, bahwa sekali-kali agam bukanlah semata masalah keakhiratan, atau dosa-pahala semata. Tetapi agama juga adalah persoalan bagaimana seseorang mampu menjadi pelindung, pengayom bagi saudara-saudaranya yang tertindas, terdzalimi dan seterusnya7. Karena memang seperti itulah tugas agama yang sesungguhnya, diturunkan guna menjadi rahmatan lil ‘alaamin, artinya agama ditujukan untuk manusia, alam semesta agar hidup serta kehidupan di dunianya menjadi semakin sejahtera. Jika agama belum menjadi rahmatan lil ‘alaamin maka kita perlu menanya apa yang masih belum tepat?

            Hikayat di atas dipertegas oleh Tuhan secara langsung melalui Teks Quran, dalam surat Al-Maun kita temukan inti sari yang kurang-lebih, “Berdustalah mereka yang hanya menikmati bersembahyang, namun melupakan nasib orang-orang yang tersingkirkan dan menderita secara sosial”. Lalu dari titik manakah kita memulai ‘menyeret’ agama yang saat ini kelewat melangit?

Semacam penutup

            Jika dulu agama kita gambarkan, pahami hanya sebatas ritual an sich, maka saatnyalah merubah paradigma agama dari teologi yang melangit menjadi teologi yang membumi. Bahwa verifikasi atas ibadah kita kepada Tuhan adalah melalui jalan kemanusiaan. Ibadah kita tidak hanya untuk yang di atas, karena sekali lagi Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita. Dan sekali-kali ia tidak akan rugi jika seluruh umat-Nya membangkang darinya. Artinya, ibadah baik ‘ubudiyyah lebih-lebih mu’amalah haruslah berdimensi sosial. Dalam dimensi sosial inilah ibadah kita menemukan pijakannya di bumi. Dan di bumi inilah pijakan permasalahan yang paling riil untuk kita jawab, selesaikan. Bukankah Kitab suci tidak lain berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab, selesaikan?!

            Perubahan paradigma ini akan mengarahkan kita pada sikap keberagamaan yang profetis. Artinya sikap keberagamaan seperti yang para nabi jalani, yakni beragama di tengah-tengah umat yang membutuhkan solusi atas masalah-masalah riil kehidupan bukan sebuah ilusi tentang dosa-pahala, Neraka-Surga. Sikap keberagamaan yang profetis ini seringkali terhalangi oleh forma-forma agama yang membelengu dan mengikat kita untuk menemukan esensi atau semangat agama yang sebenarnya. Patut kita cermati apa yang disampaikan oleh Munir Mulkhan, bahwa mungkin menyakitkan melihat praktik keagamaan yang menyumbang pemiskinan (proletarisasi) .... ketika rakyat jatuh miskin dan mati kelaparan, pemimpin sibuk dengan kuasa dan surganya sendiri.

Secercah harapan, semoga berangkat dari titik inilah kita akan mengoreksi diri tentang bagaimana sikap keberagamaan kita selama ini, adakah diri kita egois hanya befikir tentang pahala agar kita dapat dimasukkan ke dalam Surga-Nya, atau kita mampu keluar dari keegoisan diri dengan memandang bahwa rahmatan lil ‘alaamin adalah ketika kita mau memberi pengayoman, perlindungan, bantuan dan sebagainya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Wallahu a’lam bishshawaab []

 



[1] Ka.Div. Jaringan Lembaga LS-Profetika, juga terlibat dalam GARPU (Gerakan Aliansi Rakyat untuk Penghapusan Utang).

[2] Diperparah dengan adanya kebijakan negara tentang privatisasi sumber daya air, sehingga air sebagai hajat hidup orang banyak saat ini telah diperjual-belikan, ingat pasal 33 UUD 1945.

3 Karena kebijakan labour market flexibility hasil dikte IMF lewat LoI-nya kepada pemerintah Indonesia.

4 Lebih kentara lagi kita temukan pada bermunculannya da’i-da’i media yang selalu saja sama, berbicara tentang dosa-pahala, neraka-surga. Padahal masalah riil masyarakat adalah kemiskinan, pengangguran dan seterusnya.

5 Romo J. Sunarka SJ, dalam “Tafakur Bersama; Agamawan Menyoal Kemiskinan”, Baturaden pada 2 Maret 2006.

6 Orang yang gemar beribadah, ritual an sich.

7 Dalam hal ini Moeslim Andurrahman memberi istilah baru, the new mustadl’afuun.


Posted at 09:26 am by el_ferda
Make a comment  

pluralisme islam

 

Saya islam, Anda islam:

Sebuah Dialog Menuju Kalimatun ‘Islam’ Shawa[1]

Oleh: Firdaus Putra Aditama[2]

 

Saya teringat sebuah diskusi dengan kawan lama, ketika itu ia menyentil apa salahnya (atau kurang tepatnya) FPI, HTI, IM dan organisasi Islam sejenisnya? Kenapa mereka digolongkan pada lingkar-fundamentalisme. Dan apa benarnya (atau hampir tepatnya) NU, Muhammadiyyah, Al-Irsyad dan sebagainya? Kenapa mereka digolongkan pada lingkar-moderat? Dan apa salah atau benarnya (atau hampir salah atau benar) JIL, JIE, JIMM, Paramadina, Wahid Institute dan sebagainya? Kenapa mereka digolongkan pada lingkar-liberal? Atau memang jangan-jangan ini bukan masalah benar atau salah, tetapi ini soal pilihan!?

 

 

[I]slam, [i]slam, dan kemanusiaan

                Saya sepakat ketika ada orang yang menyatakan bahwa Islam itu satu. Dan saya juga tidak kalah sepakatnya dengan orang yang menyatakan bahwa islam itu banyak. Bagi saya, menyatakan bahwa Islam itu satu merupakan sebuah bentuk pembuktian dari atas seruan teks Quran. Bahwa Islam adalah likulli zaman wal makaan, juga bahwa Islam adalah formulasi rukun Islam yang lima dan tidak ketinggalan rukun iman yang enam. Dan saya juga memahami, bahwa menyatakan islam adalah banyak merupakan bentuk pembuktian dari fakta historis yang dari awal (paska nabi Muhammad meninggal—masa khulafaurrasyidiin) hingga saat ini memiliki banyak wajah. Jadi, terlepas dari keinginan saya untuk mengkotak-kotakan, sebenarnya kita memang sudah terkotak-kotak. Terkesan politis, tetapi sesungguhnya tidak, bahkan bagi saya ini merupakan sikap dewasa; sebuah keberanian mengakui perbedaan! Perbedaan antara ‘aku’ dengan ‘yang lain’. Perbedaan yang saling mengafirmasi satu sama lain. Bukan saling menegasi. ‘Aku’ ada karena ‘yang lain’ jug ada.

                Kembali ke masalah awal. Saya berimajinasi, mungkin saja agar kita mau dan mampu mengakui bahwa saya berbeda dengan Anda, di KTP masa depan perlu dilakukan sedikit modifikasi. Mungkin akan seperti ini jadinya;

 

No. KTP                                :   31.02.85. 00.997.3394

Nama                     :   Firdaus Putra Aditama

Jenis kelamin                :   Laki-laki

Agama                   :   Islam ( islam a la Nahdlatul ‘Ulama)

Dst.

 

                Dan bisa jadi kolom Islam, antara miliki saya dengan Anda berbeda. Jika berbeda, apakah lantas kita akan saling mengklaim saya lebih benar dari Anda atau sebaliknya? Atau sudah tidak perlu untuk saling melempar klaim kebenaran, karena pada dasarnya kita bertemu dalam satu payung ‘Islam’. Hanya saja, ‘islam’ kita berbeda. Meskipun berbeda, tetapi kita tetap memiliki persamaan. Atau jangan-jangan kalimat terakhir sudah menjadi retorika yang basi dan tidak marketble lagi? Bisa jadi!

                Saya berangkat dari perbedaan antara diri saya dengan Anda tak lain karena saya ingin menyatakan bahwa kita memang berbeda. Namun dengan perbedaan itu kita toh masih sedikit-banyak memiliki persamaan. Lalu, kenapa kita saling menghujat, mengklaim diri paling benar, menyalahkan, mengkafirkan? Kenapa kita tdak menerima perbadaan ini dalam sebuah kerangka ketunggalan. Bukankah ‘yang banyak’ (baca: makhluq) berasal dari ‘yang tuggal’ (baca: khaliq)? Saya rasa menginsyafi perbedaan antara saya dengan Anda adalah awalan yang cukup baik untuk menuju pada logika ketunggalan di atas.

                Artinya, sebnarnya saya ingin mengatakan ada satu hal yang dapat mempertemukan kita di dunia ini. Meskipun kita tidak berlindung pada retorika Islam (dengan ‘i’ kapital) itu. Saya, Anda dan yang lain, saya rasa akan bertemu pada satu ranah yang tak tergugat. Kemanusiaan. Sebuah titik di mana kita semua memulainya. Titik yang riil dan tidak jauh dari kita sendiri. Salah satu alasannya, karena kita manusia tentunya. Tesis saya, bahwa perbedaan di antara kita akan meluruh, ketika kita bertemu di tapal batas kemanusiaan. Kita akan meninggalkan islam-islam kita, dan kita akan menyambut Islam kita bersama. Kita akan bergerak dari banyak titik (baca: manusia), untuk menuju pada satu titik (baca: Tuhan). Bukankankah Tuhan sudah mengingatkan bahwa “hidup di dunia merupakan jalan bagi kehidupan di akhirat!?”. Artinya, untuk hidup di akhirat kelak—jika ada, dan saya sendiri meyakini keberadaanya—kita tidak boleh melupakan, menomorduakan kehidupan kita di dunia ini, sebagai manusia yang memiliki kompleksitas sejarah, konteks dan persoalan. Melupakan kehidupan di dunia dengan menjadi manusia seutuhnya, bagi saya sama artinya melupakan kehidupan di akhirat sana.

 

Dua tahap untuk bertemu

                Saya juga bukan orang yang naif, bahwa memang seringkali kita satu dengan yang lain beradu dalil, beradu argumen, ekstremnya kita beradu intrik untuk saling menegasikan satu dengan yang lainnya. Bagi saya, ketika kita masih dalam lingkaran kenaifan ini, maka kita tidak akan mampu keluar dari sikap kekanak-kanakan kita. Dan energi kita akan habis hanya untuk kenaifan-kenaifan diri itu. Saya melihat ada dua tahap yang harus kita lalui agar energi kita tidak habis dalam kenaifan diri itu;

                Ruang temu, membangun sebuah ruang temu, agar kita mampu mendialogkan berdialog. Jika kita mau fair, jujur, dan tentunya egaliter, mari kita duduk bersama, mendialogkan apa-apa yang seringkali kita sengketakan. Bukan dengan cara saya membunuh karakter Anda, dan sebaliknya. Jujur saja, saya juga pernah melakukan kenistaan ini, saya sedikit-banyak membunuh karakter Anda. Dan jika Anda membalasnya, mungkin saat ini kita impas, alih-alih mungkin juga kita tidak akan pernah bisa berdamai sama sekali.

                Yang menjadi masalah ketika kita hendak membangun ruang temu ini, apakah kita sudah siap dan dewasa untuk menerima perbedaan antara saya dengan Anda. Artinya, menerima perbedaan bukan hanya pada retorika an sich—sedangkan di belakang masih saling membunuh karakter. Tetapi sebuah sikap yang legowo, santun lagi arif ketika menyadari bahwa saya dengan Anda berbeda. Tidak saling menegasikan, tetapi saling meng-ada-kan. Lebih dari saling meng-ada-kan, kita harus saling menghargai antara satu dengan lainnya. Dengan penghargaan atas perbedaan itu, maka kita akan duduk bersama, sembari, mungkin saya merokok; sedang Anda tidak, saya memakai kaos dan celana jins; sedang Anda sarung dengan kopyah, atau Anda sembari menyeripit kopi pahit; sedangkan saya air tawar saja. Kita tinggalkan simbol-simbol yang menempel di tubuh kita. Biarkan simbol itu menjadi semacam penghias, pemertegas, atau bla bla bla, yang jelas jangan sampai simbol-simbol yang kita kenakan menjadi benteng bagi saya dan Anda.

                Setelah kita mampu saling menghargai dan duduk bersama dalam keegalitarian, mari kita mencari titik temu antara Anda dengan saya. Jika islam di KTP (imajinasi) saya di atas adalah a la Nahdlatul Ulama, sedangkan islam Anda boleh jadi; Muhammadiyyah, HTI, Al-Irsyad, JIL, atau apa pun itu, lantas parameter apa yang bisa manjadi titik temu kita? Islam (dengan ‘i’ kapital), mungkin Anda akan menjawab ‘ya’! saya tidak seoptimis Anda dengan Islam. Karena ketika kita memakai parameter itu, mau tidak mau, disadari atau tidak, kita akan kembali masuk pada lingkaran islam. Hal ini logis, Anda sudah meyakini islam Anda sebagai Islam, sebaliknya juga dengan saya. Segala pengetahuan Anda tentang islam, bagi Anda merupakan proyeksi atas Islam itu sendiri. Dan ketika kita duduk bersama dengan memakai parameter itu, maka Anda akan merasa benar, sebaliknya juga dengan saya. Lalu kapan kita akan bertemu? Memang sulit melepaskan islam untuk Islam. Karena proses yang kita alami sangatlah lama dan fenomenologis. Anda memiliki banyak alasan yang menyatakan bahwa islam Anda adalah islam yang tepat. Karena Anda, mungkin sudah membuktikannya. Dan saya, hingga saat ini belum menemukan jawabannya.

                Lalu parameter apa? Saya masih menawarkan parameter yang sama seperti di atas, kemanusiaan. Bahwa dengan memakai nilai kemanusiaan kita akan memiliki satu titik temu dan akan bersinggungan. Mungkin secara hipotetik bahwa keyakinan teologis kita akan terefleksikan dalam aspek sosiologis kita. Sehingga apa yang diterima oleh praktik sosial itulah pilihan yang tepat bagi kita semua. Dan apa yang ditolak, berarti kurang tepat untuk kita pilih di locus kita, desa, kota, daerah, bahkan negara.

                Saya masih yakin bahwa aktualisasi keberagamaan kita dapat dievaluasi. Dan naif, atau apologetik, bagi saya jika seseorang mengatakan bahwa aktualisasi keberagamaan tidak dapat dievaluasi. Evaluasi atas aktualisasi keberagamaan kita dapat kita lihat pada aspek sosiologis dalam keseharian. Tentunya hal ini merupakan parameter yang jelas bagi kita untuk bertemu (berefleksi) dan mengevaluasi tindak-tanduk kita selama ini. Sudah tepatkah saya?

 

Semacam penutup

                Melalui dua tahap di atas, saya optimis bahwa energi perbedaan kita selama ini dapat kita sublimasikan pada sesuatu yang lebih produktif daripada sekadar saling menghujat, mengintrik atau menyalahkan. Bagi saya, satu titik pertemuan kita di dunia adalah kemanusiaan kita, dan satu titik evaluasi kita juga adalah kemanusiaan. Jika hingga saat ini Anda masih mengklaim pali benar atau tepat, maka silahkan Anda buktikan pada aspek sosiologis keberagamaan Anda?

                Saya rasa, Anda boleh berbeda pendapat dengan tulisan provokatif yang saya buat. Dan bagi saya tidak jadi soal. “Bukankah demokrasi tidak akan sedemikian agung, manakala komunis dulu tidak pernah ada? Kami adalah antitesis dari tesis yang menghasilkan sintesis” (State of mind ‘trust’: Ayu Utami).



[1] Kado bagi  rekan Andi Saputra untuk ulang tahunnya yang ke-24.

[2] Mahasiswa Sosiologi 2003, Ka.Div Jaringan Lembaga LS-Profetika - Purwokerto


Posted at 09:26 am by el_ferda
Make a comment  

Thursday, February 23, 2006
oriental

Orientalisme;

Hegemoni Pengetahuan

 

 

Kesahihan, kehebatan suatu paradigma bukan karena kemampuannya

dalam membaca kondisi empiris. Tetapi lebih didasarkan pada dukungan

 masyarakat ilmiah sebagai basis kekuasaannya.

 

(Thomas Kuhn)

 

Awalan

            Mungkin kita tidak terlalu asing lagi mendengar istilah orientalisme. Sebuah istilah yang sarat akan kekuasaan, politik dan juga ideologi. Oriental secara gramatik kita artikan sebagai ‘timur’, akhiran isme dibelakangnya menunjuk pada sebuah gagasan, atau mungkin ideologi. Yang jelas istilah ini popular ketika masa kolonialisasi yang khususnya di Dunia Ketiga tengah melanda. Banyak kajian yang mengarah pada pembentukan deskripsi akan situasi; sosial, budaya, politik, ekonomi bahkan ideologi tentang negara-negara bagian Dunia Ketiga.

            Menunjuk Dunia Ketiga, berarti menunjuk obyek penderita atas suatu perlakuaan. Perlakuan ketaksewenangan, perlakuan negasi atas eksistensi. Dan Dunia Pertama adalah bagian negara-negara yang melakukan perlakuan yang tak semestinya itu. Mereka mengeksploitasi, menguras, menyerap kekayaan intelektual, pengetahuan, informasi, data dari Dunia Ketiga untuk kemudian dijadikan umpan balik bagi pengambilan kebijakan.

            Kajian orientalisme akhirnya dan memang sedari awal lahirnya adalah permasalahan kajian bukan kajian atas permasalahan. Ia lebih memfokuskan tempat di mana kondisi itu ada, bukan kondisi apa yang tengah terjadi. Orientalisme adalah kajian yang sarat dengan klaim kebenaran. Kebenaran bahwa eksistensi Dunia Ketiga di bawah kesadaran Dunia Pertama. Dalam bahasa yang lebih sarkastis, Dunia Ketiga tidak akan pernah ada jika Dunia Pertama tidak menyadarinya.

            Lalu, kita menanya tentang eksistensi Dunia Ketiga yang diperlakukan sebegitu sub-ordinatifnya dan seakan-akan tak berarti. Hal apa yang melatari orientalisme hingga ia pongah dan mengklaim dirinya sebagai pusat kesadaran Dunia Ketiga. Kepongahan yang serigkali tidak kita sadari, karena konstruksi kekuasaan seringkali menyelimutinya dan tampil menjadi sebuah bentuk kebenenaran.

            Awalan ini memperlihatkan kepada kita tentang relasi yang erat atas pengetahuan dan kekuasaan. Kebenaran pengetahuan tidak sebegitu polosnya, netralnya. Ia lebih merupakan konstruksi atas kekuasaan.

 

Pengetahuan – kuasa

            Kunh telah jauh hari mengingatkan kita bahwa kesahihan, kehebatan suatu paradigma bukan karena kemampuannya dalam membaca kondisi empiris. Tetapi lebih didasarkan pada dukungan masyarakat ilmiah sebagai basis kekuasaannya. Artinya, Kunh telah melihat bahwa seringkali suatu kajian menyandang gelar ‘valid’ lebih disebabkan karena banyaknya orang yang mengamininya. Proses pengaminan inilah yang merupakan pembasisan kekuasaan atas kajian tersebut.

            Dalam perjumpaan kontemporer, Michel Foucault, lahir di Poitiers, Perancis, tahun 1926 adalah intelektual yang produktif dalam melakukan penelitian berkenaan dengan pengetahuan. Meskipun ia sendiri tidak pernah secara utuh melahirkan teori tentang pengetahuan, tetapi analisis historis, teksnya mampu menggugat kemapanan paradigma yang sudah ada.

            Senada dengan Kunh, Foucault mampu menjelaskan dengan detail bagaimana proses produksi pengetahuan dan relasinya dengan kekuasaan. Tentu saja, sebagai seorang intelektual sosial ia melakukan telisik tersebut dalam kerangka praktik sosial, praktik kekuasaan. Sehingga ia masih tetap konsisten dalam kerangka keilmuan, yakni tanpa melakukan justifikasi atas praktik yang berlangsung.

            Ia menegaskan, (2002: 139) bahwa dalam sebuah ilmu pengetahuan, seperti ilmu kedokteran sampai akhir abad kedelapan belas, yang memiliki tipe wacana tertentu yang berubah secara bertahap dalam dua puluh lima atau tiga puluh tahun, tidak akan dapat dihancurkan sekalipun dengan proposisi-proposisi ‘kebenaran’ yang saat ini proposisi-proposisi tersebut mudah sekali dirumuskan, yang dihasilkan melalui pembicaraan mengenai seluruh rangkaian praktik yang mendukung pengetahuan medis. Ini bukanlah penemuan baru karena di dalamnya memang terdapat sebuah ‘rezim’ yang secara keseluruhan baru dalam wacana pengetahuan dan bentuk-bentuknya.

            Foucault melihat bahwa setiap ilmu pengetahuan memiliki sebuah proposisi kebenaran, tetapi bukan proposisi itu yang sesungguhnya mampu mengeksiskan ilmu pengetahuan. Ia lebih sepakat dengan menunjuk ‘rezim’ yang telah mengeksiskannya. Rezim, tentu saja dalam konteks ini menunjuk pada sebuah jejaring kekuasaan yang terbentuk dalam praktik sosial. Jejaring kekuasaan yang rumit, dan tidak mudah untuk menerabasnya, apa lagi menghancurkannya.

            Seringkali jejaring kekuasaan membentengi sebuah kebenaran-pengetahuan. Dan seringkali pengetahuan menampilkan diri dalam hegemoni kebenaran. Tali-kelindan kekuasaan – pengetahuan menjadi semakin jelas. Ia tampil dalam logika yang resiprokatif. Saling melahirkan, saling mengamankan. Mungkin tidak ada rezim yang sekuat dan sesempurna kecuali rezim kuasa-pengetahuan.

            Dalam praktiknya, pengetahuan juga melahirkan relasi kuasa. Ia menjadi hegemonik dan dominatif. Atas nama klaim kebenaran, individu dapat dan mampu melakukan politisasi. Atas nama klaim kebenaran ia memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Untuk menggugatnya pun menjadi sulit, menggugatnya berarti melawan sebuah rezim kekuasaan.

Hal tersebut akan tampak lebih riil dan dramatik jika rezim tersebut adalah suatu negara. Negara yang memiliki aparatus-aparatus represif, pun ideologis. Jika boleh meminjam istilah Althusser (2004: 24), negaralah yang memiliki Aparatus Negara Represif dan Aparatus Negara  Ideologis. Coba kita tengok, bagaimana sentralisme ekonomi di bawah rezim Orde Baru sulit digoyahkan karena ‘kebenaran’ akan paradigma pembangunan itu sedemikian ketat dikawal oleh aparat-aparat negara. Mengusiknya, mempertanyakannya sama artinya dengan subversif, makar. Inilah salah satu ikon relasi antara pengetahuan dengan kuasa dan sebaliknya.

            Atau jika kurang lengkap, kita dapat menunjuk masa Galileo yang harus menerima hukuman mati dari geraja karena menyatakan bahwa Bumi adalah planet yang bulat-elips. Tesis tersebut berseberangan dengan kebenaran yang diyakini oleh gereja, bahwa Bumi adalah persegi, atau persegi panjang. Rezim kekuasaan memaksanya untuk menegasi keyakinan akan kebenaran itu. Sedangkan ia tidak mengindahkannya, akhirnya hukuman mati menjadi tragika kebenaran yang ironis.

            Kebenaran (baca: pengetahuan) akhirnya sarat akan unsur ideologis, politis suatu kelompok tertentu. Dan boleh jadi kebenaran akan juga tampil pada proses represi atas kelompok lain. Satu kebenaran menuundukan kebenaran lain. Dan siapa yang paling benar? Maka, jawabnya adalah siapa yang memiliki basis kekuasaan guna mendukung kebenaran itu.

            Dan ketika konflik kebenaran, alih-alih kekuasaan tersebut telah usai, pemegang klaim kebenaran akan menggunakannya untuk mengatasi kelompok yang lain. Proses negasi ‘yang lain’ dan proses afirmasi ‘aku’. ‘Aku’ menjadi titik tolak, dan ‘yang lain’ hanya sekedar menjadi obyek penderita. Logika semacam inilah yang sering dikenal dengan egosentrisme. Sebuah kesadaran akan realitas yang bertolak pada ‘aku’. Tentu saja kajian yang paralel dengan logika egosentrisme adalah orientalisme vis-à-vis oksidentalisme dengan perubahan semangat dasar.

 

Menelisik orientalisme

            Hassan Hanafi (2003: 217) menggambarkan orientalisme adalah sejumlaj kajian yang dilakukan oleh para peneliti Eropa ketika Eropa berada di puncak kebangkitannya dan sedang dalam gelombang pasang kolonialismenya, ketika bangsa Eropa ingin mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, maksudnya di negara-negara koloni di luar Eropa. Tujuan dari orientalisme dan misionaris melalui berbagai generasi orientalis pada saat itu adalah untuk melapangkan jalan, pertama, bagi masuknya pasukan militer. Kedua, bagi ekonomi dan ketiga adalah kebudayaan. Oleh karena itu kajian bahsa, sejarah serta budaya menjadi begitu dominan. Kajian bahasa dilakukan agar mereka mampu mendekati masyarat setempat secara langsung. Kajian sejarah agar sejarah bangsa tersebut dapat dikenali, dan kajian budaya dilakukan agar perdaban dan faktor-faktor mental yang membentuknya dapar dikenali. Tujuannya bukan ilmu an sich atau keinginan untuk menelaah, atau memperluas wilayah sejarah di luar pusat hingga mencakup pinggiran.

            Jelas sudah apa yang digambarkan oleh Hanafi mengenai orientalisme. Bahwa memang sedari awal lahirnya orientalisme sangat ‘berlumuran darah’. Ia lahir bukan karena fenomena yang menarik, lantas diteliti, untuk menyumbang ilmu pengetahuan. Ia dilahirkan memang dalam rangka mendukung kekuasaan yang tengah berlangsung. Kekuasaan kolonialisme tentunya.

            Boleh jadi, sedikit-banyak kajian ketimuran ini memiliki fungsi keilmuan. Minimalnya pada tingkatan akumulasi informasi, data, sejumlah metode dan seterusnya. Tetapi yang menjadi masalah berikutnya bahwa pencitraan Timur yang dibangun oleh orientalis selalu mengalami bias historis. Deskripsi yang ada selalu bersifat memojokan Timur, dan sedikit sekali untuk bersikap obyektif. Hal ini tentu wajar, ketika orientalisme memang dimaksudkan untuk kepentingan kolonialisasi, baik fisik (perang) maupun non-fisik (ideologi).

            Semangat orientalisme sendiri adalah semangat etnosentrisme. Artinya pusat kesadaran adalah peradaban peneliti, etnik peneliti. Mereka enggan menggunakan pengetahuan lokal yang mungkin akan sangat fenomenologis. Mereka lebih menyukai dalam kerangka besar kolonialisasi. Hingga yang terpantul dari kajian ini adalah bias dan seringkali timpang.

            Akhirnya orientalisme lebih tepat disebut sebagai kajian sampah dan tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai ilmu pengetahuan. Orientalisme yang etnosentris itu sering terjebak dalam kungkungan ego Barat. Bagi mereka ‘yang ada’ hanyalah Barat. Timur ada, karena kesadaran Barat telah menjamahnya. Tanpa aktifnya kesadaran Barat—masa petualangan samudera—Timur sama sekali tidak akan pernah ada. Pada titik inilah semangat orientalisme sangat menyukai akan truth claim, klaim kesadaran, klaim eksistensialisme.

 

Orientalisme dan jejaring kuasa

            Yang menjadi masalah selanjutnya ketika orientalisme keberadaanya mendapat dukungan kekuasaan suatu rezim, sebut rezim kolonial. Dan perlu kita ingat, bahwa semasa kolonialisme terjadi, peradaban Barat masih hangat-hangatnya akan semangat Pencerahan. Semangat yang lahir dari saphere aude. Keberanian menggunakan pikiran sendiri. Masa di mana peradaban Barat berjalan menuju kejayaannya. Memang, hingga saat ini masih cukup hegemonik bahwa tradisi berfikir, menalar, me-reason seringkali ditujukan pada peradaban Barat. Klaim kebenaran yang datang dari Barat akan dengan serta merta diterima tanpa reserve.

            Artinya, jika kita melihat konteks sosio-historis itu, orientalisme sangat rawan untuk terjebak pada kajian yang membabi-buta dan sulit terbendung. Sampai saat ini peradaban Barat masih hegemonik bahkan dominatif, yang akan terjadi adalah dengan dukungan kuasa itu, orientalisme akan lebih sesat dan menyesatkan.

            Ketika orientalisme coba untuk digugat, semisal oleh oksidentalisme a la Hassan Hanafi, kultur masyarakat dunia belum siap menerima ‘ke-lain-an’ itu. Yang akhirnya oksidentalisme dituduh sebagai tidak akademik, reaksioner dan apologetik. Hal semacam ini terjadi karena begitu kuatnya hegemoni kebenaran yang ada dalam peradaban Barat. Sehingga merubah orientalisme pada maknanya yang obyektif seringkali harus melewati terlebih dulu jaring-jaring kuasa.

            Lebih jauh dari itu, dengan dukungan kuasa pula, apa yang orientalisme lontarkan seakan-akan menjadi sebuah kebenaran yang final, tak terbantah, dan tak tergugat. Sekedar eksemplar, bagaimana citra Islam di dunia Barat seringkali paralel dengan agama teroris, seruan perang dan radikal. Masalahnya, gambaran tentang Islam yang demikian ini sejatinya adalah proses reduksi dari keadaan yang sesungguhya. Orientalis tidak pernah sadar ataupun mau menyadarinya, bahwa di dalam Islam terjandung semangat humanisme yang luar biasa. Semangat kemanusiaan ini dapat kita temukan dalam tradisi Tasawuf yang begitu mendalam dalam mengikat makna hidup.

            Sedangkan deskripsi orientalis akan Islam begitu dangkal dan menyesatkan. Ironisnya, gambaran tersebut menjadi kebenaran yang dianggap final dalam kesadaran Barat. Mereka tidak mau menengok kembali, dan lebih mendalam tentang Islam, tentang Timur. Mereka telah terjebak pada kesombongan intelektual.

 

Katak dalam tempurung

            Membicarakan kaum orientalis tidak ubahnya melihat katak yang terkungkung dan tidak bisa keluar dari sebuah tempurung. Begitu juga orientalis, mereka selalu terkungkung dalam klaim ideologi, kepentingan kelompok dan egosentris. Sebenarnya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya, dan ketika mereka ingin tahu, mereka diselimuti rasa ketakutan, malu akan klaim-klaim yang telah mereka lontarkan. Dalam kondisi seperti inilah sesungguhnya mereka inferior di tengah peradaban yang penuh warna ini. Mereka selalu berkelit, beretorika gar dirinya tetap menang. Kesadaran orientalis adalah kesadaran kanak-kanak, meminjam bahasa Freud.

            Hanafi menegaskan, dari sinilah penilaian-penilaian subyek yang mengekspresikan gerakannya dalam membebaskan diri menjadi sekedar penilaian-penilaian subyektif, sekadar jeritan-jeritan eksistensial yang mengekspresikan sebuah krisis dan menyingkapkan kompleksitas inferior terhadap orang lain (2003: 219).

            Sikap orientalis yang egosentris, etnosentris ini yang ke depan sebenarnya akan menumbangkan klaim-klaim kebenaran yang selama ini mereka yakini. Dan boleh jadi, sikap eksklusif yang demikian ini yang akan mengubur peradaba Barat dalam kesombongannya sendiri. Kesombongan intelektual yang semestinya tidak perlu diadakan. Kesombongan intelektual yang pada akhirnya hanya mengungkung diri dan kesadaran sendiri.

            Hanafi (2003: 224) mencatat, meskipun demikian, orientalisme dapat memiliki kerdibilitasnya manakala orientalis modern menolak Eropa-sentris, tidak lagi membagi dunia menjadi pusat dan pinggiran, perdaban tinggi dengn peradaban tradisional, manakala orientalis yang jujur berusaha menjelaskan karakteristik kebudayaan bangsa-bangsa tersebut dan hasil-hasil kreatifitasnya di sepanjang zaman, manakala ia bersikap adil dan proporsional di dalam menulis sejarah kemanusiaan. Orientalis yang bebas dari rasisme yang terpendam dalam kesadaran Eropa yang paling dalam dapat memulai orientalisme dengan mengkritik Barat hingga ia dapat membebaskan dirinya dari Barat, kerangka-kerangkanya, konsep-konsepnya dan pandangan-pandangannya terhadap dunia. Setelah itu baru mengkaji bangsa-bangsa di tiga benua dan kebudayaan-kebudayaanya dengan pikiran yang bebas, metode yang murni bersumber dari permasalahan itu sendiri yang menyatu dengannya tanpa menghegemoni. Itulah bukti akan kebersihannya yang memungkinkan mendapat kredibilitas baru.

            Pandangan optimistis masih ada bagi lahirnya orientalis yang memiliki insigth baru. Pandangan semacam itu sejatinya meletakan kembali orientalisme dalam koridor awalanya sebagai kajian atas Timur. Kajian yang dalam konteks ini mengacu pada sebuah kerangka keilmiahan, bebas dari kepentingan politik, ideologis maupun ekonomis dan melalui metode-metode yang valid. Orientalis yang demikian, menurut Hanafi, akan lahir ketika ia mampu membebaskan diri dari bias Barat. Ia mampu bersikap dewasa, melihat secara obyektif dan tanpa prasangka.

            Sikap kedewasaan adalah sikap di mana sebelum ia melakukan kajian terhadap Timur, ia harus mampu keluar dari kesadaran Barat, bergerak dengan perspektfi baru. Hal ini mensyaratkan agar di awal,  ia diharapkan mampu melakukan oto-kritik bagi peradabannya, untuk kemudian merambah ke bangsa-bangsa lain.

            Yang menjadi catatan penting adalah bahwa orientalis yang ingin membuktikan kredibilitasnya, ia harus mampu keluar dari nalar ‘pusat-pinggiran’. Karena nalar inilah yang melahirkan relasi kekuasaan yang menempatkan Barat sebagai pusat kesadaran, dan Timur hanyalah pancaran dari kesadarannya. Relasi kekuasaan yang demikian akan musnah manakala orientalis ketika “mengkaji ‘yang lain’ oleh ‘aku’  melihatnya sebagai bagian dari hubungan umum antara ‘aku’ dan ‘yang lain’. Jika kajian ‘yang lain’ oleh ‘aku’ merupakan hubungan perbenturan, maka ilmu menjadi salah satu gejalanya. Jika kajian ‘yang lain’ oleh ‘aku’ merupakan hubungan saling belajar dan mengenal antara berbagai kebudayaan, maka orientalisme menjadi salah satu gejala pluralitas budaya yang mengarah pada semacam humanisme bersama yang ideal (dalam Hanafi, 2003: 225).

 

Penutup

            Relasi pengetahuan – kuasa sangatlah signifikan. Seringkali keduanya tampil saling pengaruh mempengaruhi. Yang jelas, proses kuasa akan selalu mengalir di dalamnya. Dan konstruksi demikian ini akan melahirkan ‘kebenaran’ baru. Hal ini akan berlangsung secara dialektik.

            Relasi pengetahuan – kuasa akan sangat kentara ketika kita membaca kajian orientalisme. Sebuah kajian yang sangat bias etnisitas, rasistik. Lebih jauh, semangat kolonialisme selalu menyelimutinya. Kajian ini menjadi sarat akan kepentingan, sarat akan politik, ideologis.

            Dalam kerangka yang hegemonik, para orientalis akan menggali liang kuburnya sendiri, liang kubur dari sebuah bentuk kesombongan intelektual. Sebuah bentuk kesombongan akan klaim kebenaran. Sekali lagi jejaring pengetahuan dan kekuasaan akan nampak dalam kesadaran para orientalis. Mereka tidak mampu melihat, meraba, mendeskripsikan Timur, apa adanya Timur. Deskripsi Timur dari orientalis selalu bias Barat, timpang dan sarat kepentingan.

            Praktik kuasa yang demikian akan menhancurkan struktur orientalisme sebagai sebuah kajian. Untuk itu, agar orientalisme mampu mengembalikan kredibilitasnya sebagai sebuah kajian, semestinyalah ia harus mau dan mampu meng-ada-kan dan menghargai ‘yang lain’.[]

 

Referensi

Althusser, Louis. 2004. Tentang Ideologi; Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.

 

Foucault, Michel. 2002. Power/Knowledge. Yogyakarta: Bentang.

 

_______. 2002. Pengetahuan dan Metode; Karya-karya Penting Foucault. Yogyakarta: Jalasutra.

 

Hanafi, Hassan. 2003. Oposisi Pasca Tradisi. Yogyakarta: Syarikat.

 

 

*****


Posted at 06:27 pm by el_ferda
Make a comment  

membunuh berhala

Berhala-berhala Baru;

Refleksi Makna 1 Syawwal 1426H[1]

Oleh: Firdaus Putra Aditama[2]

 

“Apakah kita semua, benar-benar tulus menyembah pada-Nya. Atau mungkin kita hanya takut pada neraka, dan inginkan surga. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepada-Nya. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut nama-Nya. Bisakah kita semua benar-benar sujud sepenuh hati. Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah, memang pantas dipuja”.

 

(Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada: Chrisye)

 

            Gema takbir membahama di mana-mana, suasana masjid kian ramai. Di penuhi oleh ratusan jama’ah yang hendak melakukan salat Ied pada 1 Syawal 1426 H tahun ini. Orang tua, remaja, serta tidak ketinggalan anak-anak belia memadati sebuah masjid yang masih dalam proses renovasi.

            Seperti tahun-tahun sebelumnya, salat Ied tahun ini dilaksanakan sekitar pukul 06.00 WIB. Di awali oleh seorang muadzdzin yang menata barisan shof. Dan dilanjutkan dengan salat Ied berjama’ah. Di penghujung ritual, khotib memberikan khutbah tentang urgensi puasa Ramadhan dan penuaian ibadah salat Ied. Dan cerita itu pun dimulai dari sini.

 

Religiofication of reward and punishment

            Acap kali saya mendengarkan khutbah yang cukup ‘menjenuhkan’. Khutbah yang selalu diulang-ulang dalam tiap tahun. Saya rasa kejadian ini bukan hanya di desa ini. Desa yang terkenal cukup religius masyarakatnya, Karanganyar Kec. Tirto Kab. Pekalongan. Namun, saya rasa kejadian ini cukup banyak kita jumpai di berbagai wilayah lainnya. Bukan hanya sebuah prediksi, tetapi beberapa kali saya singgah di beberapa desa dengan kecamatan atau kota yang berbeda pun demikian adanya.

            Ya, bagaimana ketika isi khutbah selalu menyeru pada amar ma’ruf nahy munkar. Karena memang dari perkara inilah agama (baca: Islam) menemukan momentumnya. Salah satu seruan ‘wajib’ ketika mendakwahkan agama. Dan seperti biasanya pula, di penghujung khutbah bagaimana gambaran surga diilustrasikan sedemikian rupa pada jama’ah atas kemenangan dalam melaksanakan ibadah puasa. Dan bagaimana ilustrasi neraka turut menambahkan ‘sakral’nya ibadah tersebut. Namun, apakah pemaknaan 1 Syawwal hanya berhenti pada proses ‘pemberian’ surga-neraka pada umat? Atau jangan-jangan agama yang dipahami oleh para ulama (baca: khotib) adalah sekedar surga dan neraka an sich? Atau alternatif  terakhir, mungkin kita belum cukup dewasa untuk menyampaikan agama pada umat secara komprehensif?

            Yang sempat saya tangkap adalah 1 Syawwal menjadi sebuah ritual penyematan label, siapa yang pantas masuk surga-dengan berbagai amal ibadah di bulan Ramadhan. Dan menjadi seruan untuk meninggikan derajat keimanan-ketakwaan, jika sebelumnya kita belum optimal di Ramadhan tahun lalu. 1 Syawwal hanya nampak menjadi proses penggantungan ibadah kita terhadap surga-neraka. Artinya surga-neraka menjadi semacam tujuan final manusia beribadah. Tapi, sudah tepatkah pemaknaan 1 Syawwal yang kadung mendarah-daging ini?

            Sebenarnya refleksi ini bukan sekedar pada 1 Syawwal sebagai momen terbesar umat Islam. Melainkan sebuah refleksi atas kehidupan religi umat Islam secara luas dan umum. Bagi saya, ada pemaknaan yang dangkal ketika 1 Syawwal (baca: agama) yang hanya dimaknai sebagai proses ‘pemberian’ surga-neraka. Penetapan siapa yang berhak nantinya masuk surga dan sebaliknya. Ujung dari semua nasehat hanya seputar pahala-dosa; surga-neraka. Jangan-jangan pahala-dosa; surga-neraka sudah menjadi semacam agama baru (mengalami religiofication)? Artinya jangan-jangan pahala-dosa; surga-neraka, menjadi citra ideal; tempat di mana manusia menggantungkan seluruh amal ibadahnya. Jika hal ini benar, maka penggantungan amal ibadah manusia bukan lagi pada Tuhannya melainkan pahala-dosa; surga-neraka, yang lebih menarik dari pada Tuhan itu sendiri. Padahal, surga-neraka hanyalah sebagai tempat yang tidak jauh berbeda dengan hunian kita di Bumi; sama-sama makhluk  Tuhan. Jika demikian, ironis bukan?

            Proses penggantungan amal ibadah manusia kepada surga-neraka sesungguhnya merupakan proses berhalanisasi ketika pusat ibadah tidak lagi pada Tuhan semata; tetapi pada janji Tuhan tentang tempat yang begitu istimewa; menyejukan, damai, lengkap fasilitasnya, dan berbagai macam bentuk keindahan. Berhalanisasi pada tujuan dasar manusia untuk hidupnya. Berhalanisasi yang sangat halus, dan seakan-akan benar menurut agama sendiri. Sehingga tidak heran jika Tuhan seringkali berpesan kepada kita; beramal sholehlah kamu dengan hati yang ikhlas. Sesungguhnya Ia sedang menyuruh kita untuk membunuh berhala-berhala yang ada di akal-budi kita. Sepertinya ia ingin berpesan, bukan surga-neraka ‘tuhanmu’; melainkan Aku-Tuhan Penguasa Alam semesta; Tuhan Pencipta Makhluk; dan Tuhan Empunya surga-neraka.

Saya rasa proses penggantungan semacam ini tidak ubahnya dengan kita mendirikan berhala-berhala baru ke dalam hati-pikiran kita. Sebuah berhala yang citranya teramat ‘putih’; berbeda dengan berhala Lata, Uzza, dan Manna yang kelewat ‘hitam’. Pun berhala dalam bentuk kekayaan, kekuasaan, kecerdasan dan seterusnya, yang seringkali dalam pepatah Jawa pun kita ingat sebagai “ojo dadi menungso sing adigang, adigung, adiguna”. Berhala dalam bentuk surga-neraka inilah berhala yang sulit untuk dihancurkan. Jangan-jangan hari ini kita sendiri tengah ‘menyembah’ berhala itu. Ketika amal ibadah selalu kita tujukan ‘demi’ sebuah tempat yang konon katanya membahagiakan; surga. Atau jauh, sejauh-jauhnya, dari tempat yang katanya menyeramkan; neraka. Amal ibadah kita menjadi sebatas untuk membeli sebuah tempat wisata di alam lain sana,  bukan untuk bertemu si empunya tempat.

 

Missing step

Menghancurkan berhala jenis ini  lebih sulit; karena seringkali ia dihidupkan dari dan oleh diri kita sendiri. Hal ini terjadi ketika kita mengorientasikan diri pada sesuatu yang terbatas. Dan juga seringkali hal ini menjadi penghujung dakwah yang acap kali disampaikan oleh para ulama-ulama (elit-elit agama). Saya sedang tidak bermaksud mengatakan bahwasanya mereka (elit agama) bertanggungjawab atas hidupnya berhala jenis baru ini. Tapi saya sedang berusaha menunjukan ada satu tahap yang masih kurang atau belum tercukupi—untuk tidak mengatakan, sama sekali tidak tercukupi—dalam proses dakwah agama (transformasi agama). Ada satu fase yang terlewat, yang akhirnya keberagamaan umat hanya sampai pada sebatas penyembahan pada berhala (baca: surga-neraka) bukan Tuhan itu sendiri.

Proses transformasi agama atau dakwah menjadi sentral dari Islam. Tidak heran jika Islam digolongkan menjadi salah satu agama misionaristis. Ia mempunyai semangat untuk menyampaikan ‘kebenaran’ pada seluruh umat manusia (dan alam semesta), kapan dan di mana pun. Yang menjadi masalah adalah ketika dalam dakwah, agama sendiri mengalami didangkalkan; bahkan melahirkan berhala-berhala baru, yang seakan-akan sah untuk disembah.

Masalah dakwah adalah masalah pendidikan umat. Dan hal ini meniscayakan dua kelompok sebagai pemainnya—bukan bermaksud mendikotomikan, hanya untuk mempermudah dalam memetakan. Pertama, yakni ulama atau elit agama yang seringkali menjadi sentral dari segala panutan umat. Ia menjadi sentral karena dalam dirinya ia memiliki kemampuan yang lebih atas yang lain dalam urusan atau pengetahuan tentang agama. Bisa dikatakan ia menjadi guide untuk umatnya.

Kelompok terakhir adalah massa yang jumlahnya relatif banyak, dengan penguasaan pengetahuan tentang agama relatif terbatas. Biasanya kelompok ini disebut dengan umat—ummat. Karakter kelompok ini biasanya tunduk terhadap segala petunjuk, putusan, nasehat yang diberikan oleh ulama (elit agama). Karena ia memposisikan dirinya sebagai orang yang kurang tahu dan mesti harus dibimbing agar selamat. Karakter semacam ini pula yang menempatkan mereka sebagai obyek dari segala jenis aturan-aturan. Padahal belum tentu mereka paham betul akan aturan-aturan yang dimaksud. Hanya saja, mereka sudah kelewat percaya kepada ulama. Sehingga apa yang diperintahkan, dinasehatkan, ditunjukan oleh ulama mereka amini begitu saja tanpa reserve.

Dan di antara dua kelompok itu terdapat kelompok tengah yang berfungsi sebagai jembatan antara massa dengan elit. Jembatan dalam arti corong penafsir atau transmiter serta translater bahasa dari elit ke massa, atau sebaliknya. Kelompok ‘antara’ ini dalam penguasaan pengetahuan agama relatif mencukupi. Hanya saja ia biasanya lebih dekat dengan elit daripada massa itu sendiri. Kedekatan ini lebih bermakna personal dan intim, daripada kedekatan dengan massa yang relatif mengambang. Hal ini lebih disebabkan karena ia sering melakukan charging of religio-knowledge kepada ulama atau elit. Sehingga komunikasi antara mereka lebih intens.

Selanjutnya, dalam proses pendidikan agama inilah pola relasi yang subyek-obyek; kelas atas-bawah; awwam-khos berlaku. Artinya dalam proses pendidikan inilah kelompok (mengacu pada kelas) satu dengan yang lain mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan pemahaman yang berbeda atas semangat atau ajaran agama itu sendiri. Mau tidak mau, dari sananya karakter sebaran pengetahuan agama adalah hirarkis. Ia berasal dari Tuhan, melalui malaikat, diterima oleh nabi, kepada keluarga, sahabat dan terakhir masyarakat umum. Hirarkis dalam arti tidak sembarangan orang memiliki otoritas untuk meyebarkan ajaran agama. Hanya orang-orang tertentu; dari sisilah pengkelasan dalam penguasaan pengetahuan agama bermula.

Elit adalah panutan bagi massa, dan elitlah yang berhak menafsirkan serta memberikan apa-apa yang dirasa mencukupi atau dibutuhkan oleh massa. Selaras dengan derajat ekonomi, sosial-politik, kenyataannya massa masih terbelenggu hanya seputar masalah mencari sesuap nasi untuk hidupnya. Sehingga ia tidak atau jarang berfikir tentang agama secara mendalam. Mereka lebih membutuhkan formula-formula praktis dalam mengatasi masalah hidupnya. Pada titik ini, ulama atau yang sekarang menjadi trend, da’i media menemukan momentumnya. Aa Gym, Jefri Al-Bukhori, Syamsul Arifin dan seterusnya menemukan ‘pangsa pasar’. Melalui bantuan media, mereka mengarahkan agar umat berfikir secara praktis, misal melalui rumus a la Aa Gym dan Jefri. Mereka sekali-kali tidak pernah memberikan formula yang mencapai akar masalah, mengapa kemiskinan atau lebih tepatnya pemiskinan terjadi? Karena adanya mereka merupakan kepentingan media (baca: stasiun televisi). Sehingga apa-apa yang disampaikan ketika mereka mengudara adalah titipan media yang bersangkutan, sedikit sekali semangat yang murni dari diri mereka. Mereka tak ubahnya sebagai robot atas beberapa stasiun televisi, tentunya dengan sejumlah kompensasi.

 

What we to be done?

            Apa yang harus kita lakukan melihat kenyataan pendidikan agama yang justru mendangkalkan agama itu sendiri? Pertanyaan yang cukup sulit, karena yang jelas berbicara pendidikan atau dakwah agama adalah berbicara suatu sistem yang kompleks dan harus terprogram. Artinya pertama-tama, elit-elit agama harus searif mungkin mensikapi permasalahan umat. Mereka diharapkan tidak sekedar menjadi candu bagi umatnya tetapi harus menjadi obat yang menyembuhkan hingga akar-akar penyakit, masalah kehidupan. Pada sisi ini, kepentingan serta jarak kultural harus diminimalisir. Artinya komunikasi antara elit dengan massa, baik melalui transmiter atau tidak, harus terjalin dengan intens. Hal ini diniscayakan agar elit mengetahui secara mendalam apa-apa yang umat butuhkan. Selain hanya berorientasi pada kebutuhan umat, elit juga harus memiliki visi dari tahapan-tahapan dakwah yang jelas. Secara ilustratif, setelah mereka naik kelas satu, mereka akan diajarkan materi kelas dua, dan seterusnya. Jadi apa-apa yang disampaikan oleh elit tidak melulu materi kelas satu, padahal massa sudah naik kelas dua.

 

Semacam penutup

            Hanya berbagi sedikit kegelisahan yang tak pernah terjawab, apakah missing step yang dimaksud adalah sebuah bentuk kesengajaan—melindungi kepentingan politis ataupun ekonomis, atau berjalan secara alamiah dan tumpang-tindih, antara sengaja dan tidak?!


[1] Ditulis sepulang salat Ied tahun 2005 yang lalu. Baru disempurnakan pada 14 Februari 2006, ketika melihat-lihat isi folder-wacana.

[2] Pengelana nan selalu gundah, tentang Tuhan, cinta, kebenaran, kehidupan. Akankah semuanya terjawab, atau memang sama sekali tak akan menemukan jawabnya.


Posted at 06:27 pm by el_ferda
Make a comment  

ketika manusia melepas topeng

Ketika Manusia Melepas Topeng:

Semacam obrolan ngalor-ngidul*

Oleh: Firdaus Putra Aditama**2

 

"Selalu lebih dari satu topeng yang kita kenakan

Satu waktu, satu topeng, dan berubah ke waktu-topeng yang lain

Satu kali ia tampil bak malaikat, dan kali yang lain

dengan orang yang lain; ia tampil bak setan yang jahat"

 

 

Multi-interaksi manusia

            Dalam perjumpaan di dunia, manusia yang dikenal dengan sebutan Homo Socious adalah spesies yang tidak mampu berdiri sendiri. Ia adalah spesies yang saling bergantung dengan lainnya. Kesalingbergantungan ini melahirkan sebuah bentuk interaksi antara satu dengan lainnya. Dalam praktik sosialnya, seringkali interaksi yang terjadi nampak dalam beberapa space yang berbeda.

            Adalah space, sebuah batasan (yang tentu saja abstrak), yang lahir dari sebuah atribut status dan peran yang ia miliki. Setiap status akan melahirkan peranya tersendiri. Dan yang menjadi unik, seringkali ia memiliki lebih dari satu status dan artinya ia juga harus memainkan lebih dari satu peran. Artinya, ia harus membedakan satu peran untuk ia bawakan dalam satu space dan peran lain dalam space yang lain.

            Status, peran dan space merupakan keniscayaan yang bilamana ia mampu membawakannya dengan baik, maka ia termasuk 'aktor' yang baik. Seperti halnya mahasiswa (hanya sebagai eksemplar), ia adalah juga putra atau putri dari  seorang petani, pejabat, kuli bangunan, ulama dan sebagainya. Atau ia dalam kesempatan lain, dalam space yang lain nampak sebagai seorang aktifis gerakan, atau ia nampak pula sebagai kekasih dari seorang laki-laki-perempuan, atau pun ia nampak sebagai seorang ketua, koordinator sebuah organisasi atau lembaga. Inilah potret multi-interaksi manusia yang meniscayakan untuk memainkan peran sebagai turunan dari status dan dalam space yang tepat. Peran yang tepat pada status dan space yang tepat pula.

Tentunya, permainan peran sebagai bentuk interaksi dengan individu lain, dalam praktik sosialnya, seringkali sulit dibedakan, dipetakan secara tegas. Apakah ketika itu ia sedang 'menjadi' mahasiswa, putra/putri dari seorang petani, kekasih dari perempuan/laki-laki atau ia adalah ketua/koordinator dari sebuah lembaga. Pembedaan yang defenitif ini tentu saja sulit, mengingat dalam satu 'episode kehidupan' ia memiliki lebih dari satu status.

Tetapi, dalam bangunan organisasi hal ini akan terlihat lebih jelas; kapan dan di mana ia sebagai seorang ketua, atau ia hanya sebagai putra/putri dari seorang petani. Karena bangunan organisasi memiliki logika tersendiri; yang sering kita sebut sebagai profesionalisme. Logika profesionalisme inilah yang membedakan secara tegas mana ruang privat dan mana ruang publik untuknya. Contoh konkret, ketika affair antara Clinton dan Monica Lewinsky terungkap, House of Representatif (lembaga legislatif) melakukan proses impeachment terhadapnya. Yang selanjutnya memberi semacam fatwa bahwa Presiden tidak pernah bersalah, melainkan Bill Clintonlah yang berlaku kurang tepat.

Namun, berbeda dengan praktik sosial memiliki logikanya yang khas. Logika sosial yang seringkali sulit membedakan mana ruang privat dan publik seseorang. Profesionalisme menjadii kabur dan semua batas meluruh dalam satu individu. Inilah mungkin sebuah keunikan dunia sosiall yang "sekali arang tercoreng; maka seumur hidup akan sulit terhapus", mungkin itulah  sepenggal pepatah yang cukup merepresentasikan logika sosial yang dimaksud. Dalam logika sosial inilah seseorang akan dilihat secara penuh sebagai apa dan siapa dia. Dalam logika sosial kasus Clinton akan terlihat sebagai  President gate juga sebagai Clinton gate. Faktanya kecaman atas Presiden sebagai lembaga negara dan Clinton sebagai individu datang bertubi-tubi dari berbagai pihak. Dan kecaman akhirnya dapat diminimalisir dengan menarik kasus itu ke dalam Clinton gate an sich! Meskipun tetap saja beberapa waktu kemudian karirnya meredup dan tak lagi nampak.

 

Dramaturgis membaca dunia sosial

            Dalam tradisi keilmuan sosial-tepatnya Sosiologi, kita sedikit tahu tentang adanya usaha penteorian dunia sosial yang diparalelkan dengan panggung sandiwara atau sebuah teater. Adalah Erving Goffman, seorang sosiolog Amerika, mengkerangkakan kehidupan dunia sosial sejajar dengan panggung sandiwara atau teater. Artinya bahwa dalam kehidupan sosial, seseorang sesungguhnya tengah menampilkan rentetan peran. Tampilan dari rentetan peran ini ‘harus’ ia mainkan secara baik, tepat; karena orang di luarnya menghendaki demikian. Orang di luarnya, penonton—dalam bahasa teater atau drama, menghendaki ia tampil sesempurna mungkin. Mereka seringkali tidak mempedulikan berbagai macam kendala yang dihadapi ‘si aktor’ ketika ia tidak hanya sedang memainkan satu peran, tetapi serentetan peran. Memang seperti itulah penonton, menginginkan suatu pertunjukan sesuai dengan kehendaknya dan perfect!

Lalu dari Goffmanlah kita mengenal sedikitnya tiga kunci istilah teknis; front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang) dan team. Istilah pertama mengacu pada "bagian penampilan individu yang secara teratur berfungsi di dalam mode yang umum dan tetap untuk mendefinisikan situasi bagi mereka yang menyaksikan penampilan itu" (dalam Poloma, 2000: 232). Artinya, sebuah kesan (impression) yang harus individu mainkan ketika ia tengah mengantongi suatu status. Tentu saja satu kesan akan berbeda dengan kesan yang lain dalam space atau-meminjam bahasa Goffman-setting yang berbeda pula.

            Sedangkan back stage, adalah suatu situasi di mana seorang individu telah keluar dari suatu impression dan boleh jadi situasi ini menjadi bentuk front stage baru dan lain lagi. Impression yang dimainkan dalam back stage pun berbeda, ia tampil sebagai 'dirinya sendiri'. Dan bilamana memungkinkan ia telah melepas seluruh topeng (baca: peran) yang melekat, jika mampu! Dan istilah terakhir, team, menunjuk pada "sejumlah individu yang bekerjasama mementaskan suatu routine. Pertama, saat suatu tim-pertunjukan sedang berjalan melalui tindakan yang menyimpang, setiap anggota tim memiliki kemampuan untuk merongrong atau menghentikan pertunjukan itu. Setiap peserta tim harus mempercayai tindakan dan perilaku temannya, sedang temannya juga harus bersikap demikian kepadanya ...." (dalam Poloma, 2000: 234). Artinya, satu pertunjukan atau impression yang dibawakan seseorang tetap membutuhkan bantuan dan kerjasama dengan yang lain. Misal, ketika ia dalam sebuah ruang rapat, teman atau rekannya harus memandang dan bersikap ia sebagai anggota rapat bukan memandangnya sebagai seorang teman ngobrol atau bahkan kekasih. Situasi demikian dapat dikacaukan dengan 'kerjasama tim' yang buruk dan menghancurkan segala pementasan yang ada. Sampai pada titik ini, manusia masih dan akan selalu membutuhkan yang lain.

 

Menafsirkan perilaku orang teater

            Pada bagian ketiga ini akan lebih bersifat interpretatif dan studi empiris. Usaha menafsirkan ini tentu saja berangkat dari sisi subyketif penulis, sehingga bagian ketiga ini harus dimaknai dalam kerangka eksperimentatif dan masih terbuka untuk diperdebatkan lebih lanjut. Tentunya juga bagian ini akan lebih melokal dan menyejarah. Artinya apa atau siapa yang akan kita bicarakan adalah realitas yang ada di dekat kita.

            Komunitas teater adalah salah satu wadah yang berfungsi untuk mengaktualisasikan, mengartikulasikan bakat dan minat seseorang pada hal ihwal pertunjukan, akting, dan seterusnya. Di sivitas kita, komunitas teater ini lebih dikenal dengan sebutan Si Anak. Adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memainkan fungsi di atas. Seringkali juga UKM ini mengadakan pentas di dalam atau di luar  FISIP. Dan sedikit-banyak juga kita mengenal, atau minimalnya tahu 'batang hidung' para penghuninya. Lalu apa yang menarik dari mereka, yang konon katanya para pekerja seni itu?

            "ASU ..., BANGSAT ..., JANCUK ..., BASTARD ..., COCOTÈ ..., FUCK OFF ... dan seterusnya". Untuk sebagian kita mendengar beberapa kata makian di atas mungkin risih, malu, marah atau lainnya. Namun bagi mereka kata-kata itu tidaklah demikian. Satu dari kawan berkata "ASU lah ..."  hanya akan dibalas cengengesan oleh yang lain. Ini dari sisi perkataan yang tak biasa ini. Yang lain dapat kita lihat cara berpakaian, dandan mereka yang seadanya atau bahkan dibuat-buat. Cara bertingkah mereka yang kata orang Jawa bilang nganeh-nganehi. Dan benar memang apa yang dilakukan mereka 'serba ganjil', menurut common sense. Lalu, kenapa mereka nganeh-nganehi? Adakah alasan khusus, atau mereka tengah berakting, atau…? Dan apa relevasinya dengan Goffman, atau tulisan ini sendiri? Pertanyaan itu tentunya saling berhubungan, dan akan penulis jawab dengan mengalir, yang bisa jadi tidak terlalu sistematis.

            Bagi penulis, membaca tingkah polah mereka seperti membaca manusia yang 'merdeka'. Tidak terjebak oleh peran dari statusnya, sedikit-banyak tidak terkungkung oleh nilai, norma, konstruk sosial dan juga mungkin yang paling penting tidak akan dicap sebagai orang yang tidak waras. Mengherankan bukan? Seperti Goffman yang mensejajarkan dunia sosial dengan panggung sandiwara, bagi penulis komunitas teater telah menyediakan ruang untuk itu; ruang untuk secara tepat melepas atau mengenakan topeng dari satu ke yang lain. Bagi penulis, dunia sosial (baca: kampus) masihlah merupakan jejaring front stage. Harus jaga imej atau memberikan impression yang tepat pada orang dan waktu yang tepat pula. Tetapi mungkin berbeda bagi mereka, kampus adalah sedikit-banyak back stage yang sebenarnya. Front stage mereka adalah ketika mereka  pentas dalam satu pagelaran seni-budaya.

            Apa hubungannya? Ketika mereka memasuki pentas pagelaran seni-budaya, mereka benar-benar tengah memainkan peran sebagai seorang actor-aktris yang harus jaga imej. Jaga imej  di sini menujuk pada "selama pertunjukan berlangsung tugas utama aktor ini ialah mengendalikan kesan yang disajikannya selama pertunjukan", (dalam Poloma, 2000: 236).  Mereka harus benar-benar memakai topeng, dan dipertegas dengan setting, kostum yang tidak seperti biasanya. Panggung teater adalah benar-benar front stage bagi mereka. Seusai pertunjukan, ia kembali sebagai mahasiswa biasa, dan tentunya kehidupan kampus adalah sedikit-banyak back stage yang sebenarnya bagi mereka.

            Logika semacam itu yang bagi penulis melatari mengapa tingkah-laku mereka terkesan lebih bebas, merdeka dan merupakan ekspresi dari dalam dirinya. Tanpa ditutup-tutupi; karena malu, risih atau lainnya. Ketika dalam dunia sosial yang sebenarnya (baca: kampus) proses jaga imej yang dilakukan mereka adalah lebih minimal, dan seringkali tidak ada. Mereka perlu jaga imej ketika mereka pentas, setelah itu, mereka akan tampil apa adanya. Sedangkan banyak dari kita, melakukan 'pentas' dalam aktifitas kampus dan 'pentas' usai ketika kita pulang ke rumah atau kos masing-masing.

            Komunitas teater benar-benar telah memberikan ruang yang tepat untuk melepas atau mengenakan topeng. Dalam bahasa lugas, kalau hendak jaga imej, maka jaga imej-lah ketika di atas panggung. Dan setelah topeng, pentas usai dan kita lepas, marilah kita kembali ke diri kita masing-masing. Tampilkan siapa kamu apa adanya, bukan saatnya lagi berakting karena kita tidak lagi berada di atas panggung. Kita sudah berada di belakang layar yang boleh sesukan hati melakukan sesuatu.

 

Semacam penutup

            Membaca tingkah-laku orang teater paling tidak kita melihat tentang sebuah usaha untuk belajar menjadi diri sendiri, apa adanya. Belajar untuk menjadi diri sendiri ketika menjadi diri sendiri saat ini adalah hal yang relatif sulit. Sulit karena seringkali hidup kita bukanlah sepenuhnya milik kita. Seringkali kita terkonstruk oleh apa yang sedang berlaku; trend, mode, fashion dan seterusnya. Saat ini menjadi diri sendiri adalah mahal, dan menjadi seperti orang lain adalah murah. Murah karena dengan sejumlah uang (salah satu faktor) kita dapat mengimitasi-mengidentifikasi orang lain. Cara berpakaian; dengan membeli pakaian yang sedang trend, cara berdandan; dengan menggunakan make-up dan meniru trend make-up, atau pun cara bicara; dengan banyak mendengarkan radio, televisi dalam acara gosip yang penuh sampah. Saat ini, berlaku seperti tingkah-laku orang teater adalah mahal, mahal karena sulitnya melepas jerat struktur sosial. Di saat yang lain latah dengan "gitu loch...", mereka melawan dengan menampilkan kedirian, kelokalan "cocotè ...".

            Melalui ruang teater, kita sejatinya tengah belajar bagaimana cara melepas dan mengenakan topeng pada waktu dan ruang yang tepat. Dan akhirnya "ketika manusia melepas topeng" ... maka ia akan menemukan Self-nya dalam tumpukan self-self yang tumpang-tindih, saling tutup-menutupi dan tidak karuan. "Ketika manusia melepas topeng", lalu ia akan berkata sembari tertawa... "ternyata aku lucu ya...". Semoga![]

 

Sedikit catatan

Tulisan ini diramu dengan bahan-bahan; ilmiah (analisis teori) dan alamiah (telisik realitas, baik lokal maupun interlokal), diperkuat dengan saus; Poloma, Margaret M. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers. Dan dengan penyedap; sedikit pengalaman penuh warna penulis.

 

Fote note

*  Untuk penerbitan buletin 'Gairah Tak Biasa' ,Teater Si Anak - FISIP -  UNSOED.

** Mahasiswa Sosiologi 2003,  sekarang menjabat sebagai Ka.Div. Jaringan Lembaga LS-Profetika – Purwokerto dan salah satu dari banyak pegiat FORSA.

Posted at 06:27 pm by el_ferda
Make a comment  

moci di alun-alun semarang

Di Balik Moci ala Semarang-an

Oleh: Firdaus Putra Aditama

 

 

“Mas … mampir  moci dulu sini… !

Nanti sekalian  ta’ temani ngobrol

(Mbak ‘Poci’)

 

Moci di alun-alun itu …

            Umumnya kita mengenal minuman teh poci di kedai-kedai, di pinggir jalan. Entah itu jalan besar (perkotaan) lebih-lebih jalan kecil (pedesaan). Sembari menyeruput teh poci, kita disuguhi berbagai macam jajan pasar; dari pisang  goreng sampai roti sumbu atau singkong goreng. Bercanda atau sekedar mengobrol dengan teman akan mengisi waktu malam kita, dengan sedikit tiupan angin yang manambah pesona dunia semakin terasa. Suasana itu tidak akan ditemukan jika kita moci (minum teh poci) di alun-alun Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah, Semarang.

            Moci, di alun-alun tidak akan menemukan bangku panjang atau lincak untuk duduk. Kita akan disuguhi banyak tenda kecil, memanjang di tepian trotoar alun-alun. Alih-alih kita temukan pisang  goreng atau singkong goreng, kita akan menemukan perempuan-perempuan berpakaian press full body dengan dandanan mencolok yang akan membawakan, melayani dan menemani obrolan santai kita. Saya hanya menduga, mungkin hal ini sebagai salah satu taktik bisnis, untuk memikat pengunjung—terutama laki-laki—dengan, maaf, memajang perempuan-perempuan seksi bak sebuah pajangan di etalase pertokoan.

            Bertambah menggigit ketika di tenda-tenda itu kita lihat spanduk minuman suplemen untuk laki-laki dewasa. Di antaranya kita juga akan melihat sekawanan mahasiswa yang membuka pos tentang penanggulangan AIDS. Semakin larut, semakin ramailah pengunjung. Parkir motor, mobil berjajar di pinggir jalan, mengitari alun-alun yang melingkar itu. Selang sebentar, salah satu perempuan akan pergi diajak seorang laki-laki berboncengan dengan motor. Angin yang dingin tidak membuat perempuan penjaga mengenakan jaket atau sweater-nya. Ia malah mengenakan pakaian yang serba mini, bahkan tank-top. Di sela-sela keramaian, kita akan mendengar tawa cekikikan si perempuan. Kadang kala juga terbahak-bahak. Sedangkan si lelaki dengan asap rokoknya sedikit mencolek tubuh seksi perempuan itu. Sesekali tenda dari terpal itu tertiup angin, dan suasana akan semakin menghangat, memanas.

Memang zaman sudah berubah, dan tradisi moci yang berangkat dari kota Tegal pun sudah banyak mengalami metamorfosis. Memang, banyak cara menarik pengunjung, salah satunya dengan menggunakan daya tarik perempuan dengan trik-triknya tersendiri. Entah itu ngobrol santai, colak-colek tubuh atau mengajak jalan ke suatu tempat. Dan bisa jadi, rasa teh adalah bukan lagi daya tarik yang menentukan bagi laku-tidaknya teh poci yang ditawarkan. Rasa teh mungkin menjadi nomor kesekian dari banyak cara untuk menarik pengunjung.

 

Alun-alun sebagai ruang publik

            Alun-alun kota merupakan tempat yang penuh akan kesukacitaan, keriangan. Memang konsep awal dari adanya alun-alun kota adalah sebagai tempat rekreasi masyarakat sekitar. Selain itu alun-alun juga dapat digunakan sebagai tempat rendevouz atau tempat untuk pertemuan. Alun-alaun juga sebagai taman kota yang akan menambah estetis tata ruang perkotaan, biasanya juga banyak pohon rindang ditanam di pinggiran sebagai penyerap polusi udara. Tak ketinggalan, alun-alun juga berfungsi sebagai media ekspresi publik. Entah sekedar mejeng, tebar pesona atau orasi politik, aksi sosial. Yang jelas sekelumit fungsi alun-alun selain sebatas ajang rekreasi atau hiburan, ia adalah ruang publik. Artinya, sebuah ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas-aktivitas untuk mengembangkan, mengaktualisasikan dirinya. Entah itu dengan berjualan, bermain, sekedar melepas lelah dan mencari udara segar atau menyampaikan orasi politik kepada Pemerintah Daerah Kota Semarang.

            Alun-alun boleh saja merupakan tempat yang selalu penuh dengan keramaian dan kegembiraan. Dan memang, salah satu indikasi berfungsinya alun-alun ketika masyarakat setempat memenuhi dengan berbagai jenis aktivitas. Tetapi, dalam keramaian itu, alun-alun tetap tidak boleh meninggalkan fungsi keberadaanya. Ia tidak boleh disalahgunakan, atau disimpangkan untuk melakukan aktivitas yang tidak semestinya. Memanfaatkan alun-alun sebagai ruang publik adalah hak setiap individu anggota masyarakat. Meskipun hak tersebut bukanlah hak yang tertulis dan tercatat sebagai kontrak antara Pemda dengan warganya.

 

Moci dan bias ekonomi-politik

            Jujur saja, pertama kalinya menyaksikan moci yang berada di tenda-tenda kecil, di penuhi oleh laki-laki dewasa dan perempuan separuh baya, saya merasa risih. Risih karena pemandangan itu bukan saya lihat di dalam sebuah warung dengan cahaya yang temaram, tetapi di sebuah kawasan yang merupakan jantung atau pusat kota. Sebuah kawasan yang seperti tergambar di atas merupakan sebuah ruang publik. Ruang bagi semua warga masyarakat tanpa diskriminasi baik berdasar jenis kelamin, usia, atau agama, untuk melakukan aktivitas yang mendukung dirinya.

            Tetapi lihat, sekarang alun-alun bak tempat lokalisasi. Di mana-mana kita temukan perempuan dengan pakaian dengan dandanan mencolok serta tingkah lakunya yang genit. Alun-alun bukan lagi tempat mejeng bagi remaja ABG tetapi tempat mejeng perempuan dan laki-laki dewasa. Jika perempuan dan laki-laki dewasa mejeng, tentunya tidak hanya sekedar mejeng. Tetapi ada sesuatu yang lebih jauh  dari itu. Kencan, makan malam dan bisa jadi aktivitas seks. Saya sendiri tidak terlalu paham ketika pengunjung (laki-laki) datang dan minum teh, setelahnya mengajak pergi salah satu pelayan yang seksi itu. Hanya berfikir positif saja, mungkin sebatas jalan-jalan berkeliling kota. Tapi sepertinya tidak, masalahnya seringkali laki-laki yang datang juga bertingkah genit, tidak jarang berperawakan kebapak-bapakan, alih-alih om-om kesepian.

            Memang di satu sisi dengan adanya tenda-tenda teh poci, ekonomi masyarakat dapat sedikit-banyak terbantu. Perempuan-perempuan muda dan mungkin lajang memiliki pendapatan sendiri. Yang akan membantu membiayai kehidupan keluarga, oarangtua bahkan adik-adiknya. Paling tidak, minimalnya ekonomi informal tumbuh secara dinamis dan menampakkan greget-nya.

            Di sisi lain, pemanfaatan perempuan sebagai salah satu cara dalam menarik pengunjung sedikit akan mengurangi citra alun-alun sebagai ruang publik yang berkonotasi positif. Citra alun-alun, tentunya akan berimbas juga pada citra kota yang bersangkutan. Alun-alun kota tampak sebagai ruang ‘lokalisasi’ publik, bukan ruang publik itu sendiri. Di tingkatan estetis, tentu saja merusak pemandangan kota dengan berbagai kegenitan laki-laki dan perempuan yang masih beraktivitas hingga dini hari. Sedangkan di tingkatan etika, penodaan etika publik terjadi. Ia tidak mengindahkan fungsi semestinya ruang publik dan proporsionalitas keruangan. Coba banyangkan, bagaimana putra-putri Anda, yang masih belia ketika menyaksikan pemandangan itu? Apa reaksinya? Jika ia mengatakan hal itu sebagai kewajaran, maka ini adalah salah satu tanda dari permisifnya masyarakat kita. Nilai, norma, tata kesusilaan tak lagi berharga, tak lagi manjadi struktur yang mengarahkan tindak-tanduk kita.

            Estetika kota menjadi tereduksi sekedar penghias di siang hari. Ketika malam menjemput, pemandangan berubah. Dari keramaian lalu-lalang orang bekerja, menjadi keramaian lalu-lalang laki-laki-perempuan berduaan entah hendak ke mana dan apa? Etika kota menjadi tergugat dan tidak lagi mapan. Nilai, norma, tata kesusilaan hanya sebatas pelengkap ketika kita pergi ke rumah calon mertua, wali kota, gubernur. Sedangkan di ruang publik di mana berbagai usia, latar belakang keyakinan-kepercayaan, pendidikan, bertemu menyaksikan pemandangan menggairahkan itu.

            Lantas kita menanya, di mana kewenangan Pemda Kota Semarang dalam mengatur aktivitas warganya yang ‘ugal-ugalan’ di ruang publik itu? Apakah Pemda dengan Linmas serta Trantibnya tidak mengetahui aktivitas malam apa yang terjadi di alun-alun kota? Atau jangan-jangan Pemda tahu, karena banyak memiliki telinga, tetapi pura-pura tidak tahu karena secara tidak langsung memberi masukan bagi pendapatan daerah. Skeptisisme semacam ini menurut saya pantas diajukan, karena jelas-jelas alun-alun adalah kawasan yang strategis dan mudah untuk mengaksesnya. Atau jangan-jangan juga Pemda pura-pura tidak tahu bahkan ‘memberdayakannya?’

            Jika demikian, saya rasa terlalu gegabah dan dangkal. Bukan hanya persoalan estetis atau etika saja yang terlanggar. Tetapi ada persoalan yang lebih serius sekedar itu. Adanya tenda-tenda usaha yang dipenuhi dengan perempuan muda mengundang tindak premanisme. Entah dengan alasan uang keamanan atau sekedar meminta uang rokok. Selain itu, kerawanan sosial akan semakin meningkat. Bukan hanya pada perempuan yang dimaksud, bisa saja perempuan yang hanya melintas atau sekedar ingin tahu Simpang Lima menjadi obyek pelecehan seksual. Dan terakhir, yang paling ironis adalah kita disuguhi dengan tindak kekerasan perempuan di ruang publik setiap malam dan tidak ada satu pun pihak yang iba. Jangan-jangan kekerasan perempuan sudah sedemikian biasanya di masyarakat kita dan menjadi tidak terasakan lagi?

 

 

Semacam penutup

            Sebagai bentuk bias politik, Pemda kurang apresiatif dan tanggap atas dis-fungsi ruang publik tadi. Paling tidak dengan berbagai ekses negatif di balik moci di alun-alun Semarang, Pemda mengeluarkan kebijakan yang lebih berpihak, tidak hanya pada sektor ekonomi masyarakat, tetapi juga pada penghargaan perempuan serta keteladanan bagi generasi muda Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.            

            Tercorengnya citra alun-alun kota sekali lagi akan berdampak pada kota itu sendiri. Apalagi jika kita ingat bahwa Semarang adalah Ibu Kota Propinsi, yang artinya sebagai tolak ukur bagi kota-kota lain di Jawa Tengah. Semoga hanya saya saja yang kebetulan singgah semalam di Semarang, berjalan sembari mencari pengganjal perut dan berfikir tentang dis-fungsi ruang publik itu! Semoga[]


Posted at 06:27 pm by el_ferda
Make a comment  

Previous Page Next Page


<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

firdaus putra aditama. kelahiran pekalongan tepatnya akhir maret. saat ini sedang melaksanakan studi di jurusan sosiologi fisip unsoed purwokerto.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed